Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Takhtim Majelis Ta’lim dan PP. Al-Maliki Pekalongan berlangsung dengan khidmat (Sabtu, 24/02/24). Acara dihadiri oleh ‘ulama keturunan Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani ke-23 dari Palestina, Syekh Dr. Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jaelani Al-Hasani. Sosok imam besar Masjidil Aqsho yang banyak mengarang kitab.

Acara yang berlangsung di Joglo Kyai Ageng Pekalongan Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan, merupakan takhtim simbolis pengajian rutin Majelis Ta’lim dan PP. Al-Maliki Pekalongan yang diasuh oleh Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin. Dimulai dengan rangkaian kolaborasi kreasi penampilan Santri PP. Al-Maliki Cendekia Pekalongan dan PP. Salaf Al-Maliki Pekalongan. Dan apresiasi santri berprestasi baik dalam kancah Pondok Pesanten maupun Kompetisi Olimpiade tingkat Provinsi.

Dalam acara tersebut, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin menyampaikan rasa syukur dan bahagianya, karena dalam kesempatan tersebut hadir beberapa ‘ulama, tokoh masyarakat, juga wali santri dan jama’ah yang memadati Joglo Kyai Ageng Pekalongan.

Hadir dalam momen istimewa tersebut, Habib Ridho bin Yahya Jakarta, Walikota Pekalongan, Ketua DPRD Kota Pekalongan, Kapolres Kota Pekalongan, Dandim Kota Pekalongan, Kasdim 0710 Pekalongan. Kepala Kemenag, Kabag Logistik Polres Pekalongan Kita, Perwakilan dari Kapolres Peklaongan Kajen, Komandan Kompi Brimob Pekalongan, Perwakilan Kepala Kejaksaan Negeri Kota Pekalongan, Camat Pekalongan Selatan, Damramil Pekalongan Selatan, Perwakilan Hotel Dafam, dan beberapa tamu lainnya.

Habib Ridho bin Yahya memimpin pembacaan Tahlil sebagai peringatan Haul Masyayikh Al-Maliki Pekalongan. Dilanjut dengan untaian nasehat dari Syekh Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jaelani, yang didampingi Ustadz Anis sebagai penerjemah. 

Kebahagiaan Guru Menjadi Sebab Santri Diangkat Derajatnya oleh Allah

Syekh Ammar Azmi menuturkan, “Kebahagiaan seorang guru itu ketika melihat kesuksesan muridnya. Ini sebuah kenikmatan di dunia. Sebagaimana Imam Al-Maliki bahagia melihat kesuksesan murindya:  Imam Syafii, Imam Jakfar Shoddiq bahagia melihat kesuksesan Imam Abu Hanifah, dan ini merupakan kebahagiaan hakiki di dunia, dan akan terjadi kelak di akherat kebahagiaan yang abadi.”

Beliau menyebutkan Hadits Syarah AlBukhori,

“baginda Nabi Muhammad saw bersabda, seorang ulama derajatnya persis setelah para nabi, ini bukti pengagungan Allah. Allah SWT menepati janjinya, akan akan mengangkat derajat ahli ilmi, Allah akan mengangkat orang yang berilmu sebagaimana Allah swt mengangkat derajat dari wasilah ulama, guru-guru tersebut.”

Kenikmatan atau kebahagiaan seorang guru itu tatkala melihat muridnya mendapat derajat tinggi di akherat. Dari guru inilah yang menjadi sebab para santri mendapat kemuliaan di akherat.

Beliau mengharapkan para santri Al-Maliki juga seyogyanya bisa mendapat kebahagiaan dari Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin, yang menjadi sebab santri diangkat derajatnya baik di dunia maupun di akherat. 

Pentingnya Menggapai Hakikat Ilmu

Syekh Ammar Azmi Ar-Rafati menekankan pentingnya santri menggapai hakikat ilmu. Karena mempelajari ilmu tanpa mengetahui maksud dari konsp keilmuan tersebut akan menjadi hambar.

“Seperti Iblis jika secara keilmuan mereka rajin, mereka ahli ilmu, tetapi mereka tidak menadapatkan tujuan ilmu tersebut. Tujuan ilmu yang diberikan Allah kepada hambaNya,” terang Syekh Ammar.  

“Hakikat ilmu itu apa? Orang belajar bukan sekedar membaca, bukan sekedar menghafal apa yang ingin dihafal. Namun lebih dari itu, ada 4 hal yang harus dipenuhi seorang santri untuk memperoleh hakikat ilmu itu sendiri.

Hakikat ilmu ada 4 :

Pertama, kesiapan seorang santri di dalam mempelajari dan mengaplikasikan ilmu tersebut. Kedua, kebersihan pola pikir, atau kecerdasan akal seorang  santri. Ketiga, akidah atau keyakinan yang baik atau yang sesuai dengan tuntunan Rosulullah saw. Karena ilmu ini akan melahirkan budipekerti yg baik, dan bagi pencari ilmu akan memiliki i’tikad yg baik. Keempat, metode yang disiapkan dimana metode tersebut yang sesuai dengan ajaran Rosulullah saw. Karena ilmu seharusnya melahirkan budi pekerti yang baik, akhlak yang baik, dan akan menjadikan sebuah keyakinan yang baik. 

Oleh karena itu hakekat ilmu itu adalah sebuah konsep memasukan ilmu ke dalam hati seseorang yang akan melahirkan sebuah akhlak dan I’tikad yang baik. Dan ini yang Baginda Nabi Muhammad saw ajarkan kepada para sahabat. Jadi ketika Baginda Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada para sahabat Baginda Nabi tidak hanya mengajarkan ilmu saja, tetapi juga memasukan ilmu tersebut kepada para sanubari sahabat, sehingga ini merupakan hakikat ilmu yang dimaksudkan Allah SWT.

Sebagaimana Baginda Nabi Muhammad mengajarkan iman kepada para sahabat, maka beliau mengajarkan sahabat tentang konsep Iman.

“Iman itu apa? Iman itu bentuk akhlak, bentuk adab ktia kepada Allah SWT. Kepada Makhluk-makhluk ciptaan Allah swt, adab kita kepada para malaikat. Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi memasukan ke dalam sanubari sahabat pemahaman tentang ilmu,” lanjut Syekh Ammar.  

Dan beliau menjeaskan ketika hakikat ilmu itu didapatkan para santri maka santri akan mendapat keutamaan dari ilmu tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran tentang keutamaan ilmu. 

Ummat Nabi Muhammad adalah Ummat yang Berilmu

Syekh Ammar menegaskan,

“Jika kta ingin menunjukan sebagai umatnya Nabi Muhammad, maka kita harus menunjukannya dengan ilmu. Kalau ummat Nbai Muhammad pintar maka akan mengalami kemajuan-kemajuan besar. Baghdad menjadi Kota Ilmu, begitu juga dengan Masjidil Aqsho menjadi universitas tua.”

Beliau mengisahkan tentang seorang ulama al-azhar bertemu dengan ilmuan Jepang, kemudian ulama Al-Azhar itu bertanya kepada ilmuan Jepang,

“Apa yang membuat Jepang itu maju, bahkan untuk pintu toilet saja bisa otomatis terbuka.”

Kemudian orang Jepang menjelaskan, Islam sebenarnya lebih dahulu maju di banding kami. Ilmuan Jepang takjub dengan penelitian-penelitian ilmuan Islam di masa lalu. Saat membaca sejarah Nabi Muhammad orang Jepang melihat potensi besar dari umat Islam bisa melejit lebih cepat dengan ajaran Islam. 1 orang Islam memiliki sebuah kepintaran atau kecerdasan sebanding dengan 5 orang.

Kenapa sekarang umat Islam mengalami kemerosotan dalam ilmu? Saat ditanya seperti itu ulama Al-Azhar menjawab, karena orang Islam saat ini lebih suka menmpatkan seseorang yang bukan ahli ilmu sebagai orang yang diikuti fatwanya seperti artis.

Syekh Ammar juga menuturkan bahwa tempat majelis seperti ini, adalah tempat kita mendapat pahala sebaik-baiknya.

“Sebagaimana sebaik-baik shodaqo menurut Imam Syafi’I adalah untuk orang yang mencari ilmu. Karena berinfak untuk orang yang mencari ilmu, dengan fasilitas yang kita berikan dia akan menjadi orang yang alim, dan dia akan bisa memberikan kemanfaatan dari ilmu yang dia miliki.”

Terakhir beliau mendoakan hadirin semoga Allah SWT selalu menajga tempat ini, menjaga para mencari ilmu di sini, dan menjaga Indonesia supaya maju dengan ilmuan-ilmuannya.  

Semoga dengan kehadiran Syekh Ammar dan ‘ulama lain di PP. Al-Maliki Pekalongan mampu membangkitkan semangat para santri mendalami ilmu agama dengan niat  yang lurus dan adab yang sesuai ajaran Baginda Nabi Muhammad saw, aamiin allahumma aamiin…. (*)

error: Content is protected !!