Kepala MAN IC Pekalongan Beberkan Rahasia Menjadi Santri Sukses Pada Acara PSB MTs ALMALIKI CENDEKIA Boarding School

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, M.Pd.I., beberkan rahasia menjadi santri sukses pada acara penerimaan santri baru MTs ALMALIKI CENDEKIA Boarding School, Minggu (21/07/24).  Dalam sambutanya, sosok orang nomor satu MAN IC Pekalongan yang akarab disapa Pak Rektor itu menyampaikan,

“Jika ingin menjadi santri sukses lakukan 4 hal, kata Pak Kyai…,” kata Pak Rektor.

Pertama, niat mencari ilmu. Beliau mengutip QS. Al-Mujadalah ayat 11.

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Yang diangkat oleh Allah itu bukan karena nilainya baik, akan tetapi karena mempunyai ilmu,” tegas Bapak Khoirul Anam.

Kedua, adab. Adab di atas ilmu.

“Apa artinya insan cendekia kalau sama orang tuanya nggak ta’at, sama ustadz-ustadzahnya nggak ta’at, sama Kyainya nggak ta’dhim?

Ketiga, mempunyai harapan untuk membahagiakan kedua orang tua kita.

Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Kisah Berbuah Manis Berkat Ta'at Pada Orang Tua

Kepala MAN IC Pekalongan berbagi pengalaman menarik terkait harapan membahagiakan orang tua yang membuahkan kisah manis. Beliau menceritakan usai lulus SMP beliau ingin sekali mondok di Lirboyo, karena teman-teman ayah beliau mondoknya di Lirboyo. Namun siapa sangka Ayah beliau menginginkan putranya melanjutkan studi kependidikan guru agama. Karena ta’atnya beliau kepada orang tua akhirnya beliau memutuskan untuk mengikuti arahan ayahandanya.

Setelah 27 tahun berlalu, beliau berkesempatan sowan langsung dengan para masyayikh lirboyo dan Kyai-Kyai alumni Lirboyo dengan wasilah Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin.

“Setelah sekitar 27 tahun baru terjawab, bisa sowan kepada kyai-kyai sepuh di Lirboyo, tapi nggak berani kalau tanpa wasilah beliau (Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin).”

Generasi Ulul Albab

Sepak terjang siswa-siswi MTs ALMALIKI CENDEKIA tidak bisa dianggap sebelah mata. Meski baru angkatan pertama, prestasi MTs ALMALIKI CENDEKIA sudah berani diadu dengan MTs atau SMP lain yang sudah berdiri lama. Terbukti dari prestasi MTs ALMALIKI CENDEKIA berhasil lolos OPSI yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.

“(Santri MTs Al Maliki Cendekia) dikhittah menjadi ulul albab, ketika dia duduk, berbaring, bahkan laripun mengingat kebesaran Allah. Karena ini adalah generasi-generasi ulul albab, generasi menjadi seorang peneliti,” tambah Kamad MAN IC Pekalongan.

“Tidak salah orang tua yang menyekolahkan anaknya di MTs ALMALIKI CENDEKIA. Beliau (Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin) bagian IMTAQnya saya bagian IPTEKnya. Beliau berhati Makkahnya saya berotak Jermannya, kami berkolaborasi,” jelas Pak Rektor.

Kurikulum Pendidikan ALMALIKI CENDEKIA berada dalam naungan MAN IC Pekalongan, dengan penjamin mutu langsung dari MAN IC Pekalongan, Ustadz Nabih Siddiqi, Lc., M.Si. Terkait dengan mutu MTs ALMALIKI CENDEKIA, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin dalam berbagai kesempatan mengajak ustadz-ustadzah MTs ALMALIKI CENDEKIA melakukan studi wawasan terhadap beberapa sekolah favorit di berbagai kota.
                “Ada Semesta kita datangi, sekolah bagus di Purwokerto kita datangi. Belajar dari mereka untuk meningkatkan kualitas MTs ALMALIKI CENDEKIA,” tutur Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin.

MTs ALMALIKI CENDEKIA juga mengusung konsep boarding school, selain menjadi siswa akademisi juga menjadi santri di PP. ALMALIKI Pekalongan, yang lekat dengan pembelajaran kitab kuning.

“Tidak hanya dari segi sikap yang akan berubah tapi juga dari akademisnya,” ungkap Kamad MTs ALMALIKI CENDEKIA, Anas Yoga Nugroho, S.Si., M.Si.

Angkatan Kedua MTs ALMALIKI CENDEKIA ini dikukuhkan dengan nama Birrun Generation, yang beranggotakan 32 siswa/i. Setelah proses seleksi yang ketat, Birrun Generation ini juga melewati serangkaian psikotes guna menyaring potensi akademis dan bakat masing-masing siswa yang kemudian akan dibina dan dikembangkan sesuai dengan potensi masing-masing.

Hadir pula dalam penerimaan santri baru MTs ALMALIKI CENDEKIA, perwakilan Kapolres Pekalongan Kota, penjamin mutu MAN IC Pekalongan Andri Agustina, M.Si., orang tua santri dan tamu undangan.(*)

Takhtim Ngaji Pasaran Ramadhan PP. Al Maliki: Ajang Kreasi Santri Hingga Pembacaan Sanad Kitab

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – PP. Al Maliki Pekalongan melangsungkan Takhtim Ngaji Pasaran Ramadhan 1445H, bertepatan pada hari Ahad Malam Senin, 21 Ramadhan 1445H/ 31 Maret 2024. Acara bertempat di Joglo Kyai Ageng Pekalongan, PP. Al Maliki, Jl. Kyai Ageng Pekalongan No. 1 Kuripan Kertoharjo Kota Pekalongan.

 

Kajian pasaran Ramadhan di PP. Al Maliki dimulai sejak tanggal 1 Ramadhan yang pesertanya tidak hanya santri PP. Al Maliki dan Majelis Ta’lim Al Maliki, namun juga santri-santri dari luar, seperti PP. Aris Kendal, PP. Dalwa Pasuruan, PP. Lirboyo Kediri, dsb, serta masyarakat sekitar.

 

Acara dihadiri oleh Walikota Pekalongan, H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E., Kapolres Kota Pekalongan AKBP Doni Prakoso Widamanto, S.I.K, Wakapolres Kota Pekalongan, Kompol Pujiono, SH., M.M., Kemenag Kota Pekalongan, H. Kasiman Mahmud Desky, M.Ag., Kepala MAN IC H. Khoirul Anam, M. Pdi, Pengawas MTs se-Kota Pekalongan, Bpk. Camat Kuripan Kertoharjo, Lurah Kuripan Kertoharjo, serta jama;ah dan masyarakat sekitar. 

Takhtim Ngaji Pasaran Ramadhan juga dirangkai dengan sambutan dari beberapa tokoh. Kapolres Pekalongan AKBP Doni Prakoso Widamanto, beliau menyampaikan pentingnya berkumpul dalam satu Majelis dengan orang-orang sholeh.

 

 Dilanjutkan dengan H. Kasiman Mahmud Desky, M.Ag., Kepala Kemenag Kota Pekalongan menyampaikan, “Tidak banyak tempat yang diberi kemudahan seperi kita untuk menuntut ilmu. Kita patut bersyukur kepada Pak Kyai, kita yang tua-tua yang sebelumnya tidak terbiasa mengaji, bisa memaksimalkan ngaji pasaran.”

 

H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E. walikota Pekalongan menyampaikan , “Pondok Pesantren Al Maliki sangat luar biasa. Saya mengikuti mulai dari peletakan batu pertama, sekitar 3-4 tahun yang lalu. Sekarang sudah jadi seperti ini, memang suatu cita-cita besar.”

 

Saya ingat pesan dari Kakek saya, “Kalo kita memang niat untuk membangun fasilitas keagamaan maupun social suatu saat akan terkabul, tapi kapan waktunya kita tidak ketahui.”

 

“Karena itu kita kita perlu berproses. Berproses itu step by step, selangkah demi selangkah, membuat kita semakin kuat,” tambah beliau. 

Tidak seperti biasanya, jika pada takhtim ngaji pasaran Ramadhan sebelumnya mauidhoh hasanah selalu diisi santri, kali ini Disi oleh Wakapolres Kota Peklaongan Kompol Pujiono, S.H., M.M., dalam mauidhonya beliau menegaskan pentingnya sedekah, dan mengajak jama’ah bersholawat.

 

          Beliau berkata, “Jangan dekat-dekat orang alim kecuali bisa membawa perubahan, seperti halnya jika amal yang sebelumnya dilakukan karena riya’ menjadi ikhlas.”

 

Rektor MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, M.Pdi., “Kalo ingin Pondok Pesantren ini maju, bermutu dan mendunia itu tentunya ada resepnya. Sistem yang kita bangun adalah Kerjasama. Kita dukung program Pak Kyai, kita dukung program jama’ah. Yang kedua adalah membangun jejaring, yang ketiga adalah Kolaborasi. Keempat, inovasi. Yang di PP. lain tidak ada, kita adakan.

 

“Jika Teamwork, networking, kolaboasi dan inovasi dilakukan insya Allah, Kun!” tutur beliau.

 

          Pak Rektor, sapaan sehari-hari beliau, menurutkan, bahwa kurikulum MTs Almaliki Cendekia didesain sesuai dengan panduan dari MAN Insan Cendekia. Siswa-siswi MTs Almaliki Cendekia juga bergiliran mengunjungi MAN Insan Cendekia Pekalongan untuk belajar dengan fasilitas laboratorium yang lengkap.

 

“Saya berharap ada kurikulum ke-IC-an sejak awal, sehingga pada saat ujian nanti sudah terbiasa.

         

          Selain sambutan, Takhtim Majelis juga dirangkai dengan penyerahan SK. Pondok Pesantren dari Walikota Pekalongan kepada PEngasuh PP. Al Maliki Pekalongan. Dimeriahkan juga dengan Khataman Al-Qur’an, Pembacaan Sanad Kitab, dan Drama Kolaborasi Santri PP. Al Maliki dan Majelis Ta’lim Al Maliki.

 

Pemungkas acara, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin sebagai khodimul Ma’had dan Majelis Ta’lim Al Maliki menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada jajaran tokoh yang bersedia hadir dalam acara tersebut.

 

 Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin juga mengajak hadirin menyampaikan rasa syukurnya.

  

“Kita patut bersyukur, karena di khataman puasa ini kita mendapat berkah yang luar biasa,” dawuh beliau. 

           

Perlu diketahui, PP. Al Maliki lahir dari Rahim Majelis Ta’lim Al Maliki Pekalongan. Majelis yang sebelumnya diasuh Almaghfurlah KH. Amirin bin Kurdi, kini dilanjutkan oleh Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin. Pada kepemimpinan Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin Majelis Ta’lim berkembang, dan melahirkan PP. Al Maliki Pekalongan yang menaungi PP. Al Maliki Cendekia dan PP. Salaf Al Maliki.

           

MTs ALMALIKI CENDEKIA beroperasi dengan bimbingan MAN Insan Cendekia, dengan system boarding school. Mengusung konsep bilingual, bahasa arab dan bahasa inggris serta pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center).

 

MTs ALMALIKI CENDEKIA berkomitmen melahirkan generasi yang cerdas, mandiri dan berwawasan global. Ditunjang dengan program khusus dan ekstrakurikuler. Bimbingan olimpiade, bimbingan ke MAN IC dan pembelajaran kitab kuning. MTs ALMALIKI CENDEKIA ; Unggul, Berdzikir, Mengukir Prestasi dan Prasasti.

 

PP. Al Maliki juga menaungi PP. Salaf Al Maliki, yang letaknya di Jl. Pelita III Gg Kyai Amirin No. 53 Jenggot Pekalongan Selatan, Kota Peklaongan.

 

Pondok Pesantren yang berfokus pada pembelajaran kitab kuning, merawat tradisi keislaman tempo dulu yang ditransformasikan dengan perkembangan zaman. Memiliki program unggulan Madrasah Diniyah, pembinaan akhlakul karimah dan pelatihan keterampilan.

 

Madrasah Diniyah PP. Salaf Al Maliki mengembangkan kurikulum yang diarahkan pada tercapainya penguasaan kitab kuning. PP. Salaf Al Maliki unggul dalam ilmu agama, merawat tradisi keislaman, berpikiran luas, dan terbuka dalam beramal.

 

Selain agenda Takhtim Majelis Posonan yang berlangsung setiap tahun, PP. Al Maliki juga secara rutin mengadakan Dauroh Kitab (bedah kitab) yang diisi oleh ‘ulama-‘ulama internasional yang sanadnya tersambung dengan Sayyidi Rosulillah saw. (*)

 

Kisah Pemabuk yang Diangkat Derajatnya Berkat Sholawat

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul. Syekh Nawawi mengutip cerita ini dari sebagian kaum sufi.

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga dirinya tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. 

Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun tidak menerimanya dan masih tetap dengan kebiasaan mabuknya. Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi. Ia berada dalam derajat yang luar biasa mulia, memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga

Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi pun bertanya: 

 بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

Artinya: Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini? 

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya: 

 حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ

Artinya: Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barang siapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga mengeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.

وهي مقبولة من كل أحد في كل حالة، ومن المخلص فيه،  وكذا من المرائي بها على أصح الأقوال

Artinya, “Shalawat itu diterima dari setiap orang dan dalam kondisi apapun. Diterima dari orang yang ikhlas, begitu juga orang yang riya atau pamer amal menurut pendapat yang paling benar. (Yusuf an-Nabhani, Sa’âdatud Dârain, halaman 34).

Setidaknya ada dua penjelasan tentang hal tersebut menurut kutipan Syekh Ibnu Amir dalam hasyiyah atas kitab Ithâful Murîd Syarh Jauharatid Tauhîd. Pertama, maksud bacaan shalawat pasti diterima adalah, pembaca akan menemukan pahala shalawat di akhirat bila meninggal dalam kondisi husnul khatimah. Hal ini berbeda dengan amal lain yang masih bisa diterima dan tidak.

 

Kedua, maksud bacaan shalawat pasti diterima adalah, andaikan tidak meninggal dalam kondisi husnul khatimah—naûdzubillâhi min dzâlik—maka ia tetap akan mendapatkan manfaat syafaat dari shalawat yang dibacanya. Setidaknya shalawat pernah dibacanya akan meringankan siksanya di neraka, sebagaimama Abu Lahab mendapat keringanan siksa tiap hari Senin karena gembira atas kelahiran Rasulullah saw, atau Abu Thalib yang mendapat keringanan siksa karena cintanya kepada Nabi saw dan doa yang dipanjatkan Nabi saw. (*)

Takhtim MT & PP. AL-Maliki Pekalongan, Syekh Ammar Bangkitkan Semangat Mencari Ilmu Santri

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Takhtim Majelis Ta’lim dan PP. Al-Maliki Pekalongan berlangsung dengan khidmat (Sabtu, 24/02/24). Acara dihadiri oleh ‘ulama keturunan Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani ke-23 dari Palestina, Syekh Dr. Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jaelani Al-Hasani. Sosok imam besar Masjidil Aqsho yang banyak mengarang kitab.

Acara yang berlangsung di Joglo Kyai Ageng Pekalongan Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan, merupakan takhtim simbolis pengajian rutin Majelis Ta’lim dan PP. Al-Maliki Pekalongan yang diasuh oleh Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin. Dimulai dengan rangkaian kolaborasi kreasi penampilan Santri PP. Al-Maliki Cendekia Pekalongan dan PP. Salaf Al-Maliki Pekalongan. Dan apresiasi santri berprestasi baik dalam kancah Pondok Pesanten maupun Kompetisi Olimpiade tingkat Provinsi.

Dalam acara tersebut, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin menyampaikan rasa syukur dan bahagianya, karena dalam kesempatan tersebut hadir beberapa ‘ulama, tokoh masyarakat, juga wali santri dan jama’ah yang memadati Joglo Kyai Ageng Pekalongan.

Hadir dalam momen istimewa tersebut, Habib Ridho bin Yahya Jakarta, Walikota Pekalongan, Ketua DPRD Kota Pekalongan, Kapolres Kota Pekalongan, Dandim Kota Pekalongan, Kasdim 0710 Pekalongan. Kepala Kemenag, Kabag Logistik Polres Pekalongan Kita, Perwakilan dari Kapolres Peklaongan Kajen, Komandan Kompi Brimob Pekalongan, Perwakilan Kepala Kejaksaan Negeri Kota Pekalongan, Camat Pekalongan Selatan, Damramil Pekalongan Selatan, Perwakilan Hotel Dafam, dan beberapa tamu lainnya.

Habib Ridho bin Yahya memimpin pembacaan Tahlil sebagai peringatan Haul Masyayikh Al-Maliki Pekalongan. Dilanjut dengan untaian nasehat dari Syekh Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jaelani, yang didampingi Ustadz Anis sebagai penerjemah. 

Kebahagiaan Guru Menjadi Sebab Santri Diangkat Derajatnya oleh Allah

Syekh Ammar Azmi menuturkan, “Kebahagiaan seorang guru itu ketika melihat kesuksesan muridnya. Ini sebuah kenikmatan di dunia. Sebagaimana Imam Al-Maliki bahagia melihat kesuksesan murindya:  Imam Syafii, Imam Jakfar Shoddiq bahagia melihat kesuksesan Imam Abu Hanifah, dan ini merupakan kebahagiaan hakiki di dunia, dan akan terjadi kelak di akherat kebahagiaan yang abadi.”

Beliau menyebutkan Hadits Syarah AlBukhori,

“baginda Nabi Muhammad saw bersabda, seorang ulama derajatnya persis setelah para nabi, ini bukti pengagungan Allah. Allah SWT menepati janjinya, akan akan mengangkat derajat ahli ilmi, Allah akan mengangkat orang yang berilmu sebagaimana Allah swt mengangkat derajat dari wasilah ulama, guru-guru tersebut.”

Kenikmatan atau kebahagiaan seorang guru itu tatkala melihat muridnya mendapat derajat tinggi di akherat. Dari guru inilah yang menjadi sebab para santri mendapat kemuliaan di akherat.

Beliau mengharapkan para santri Al-Maliki juga seyogyanya bisa mendapat kebahagiaan dari Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin, yang menjadi sebab santri diangkat derajatnya baik di dunia maupun di akherat. 

Pentingnya Menggapai Hakikat Ilmu

Syekh Ammar Azmi Ar-Rafati menekankan pentingnya santri menggapai hakikat ilmu. Karena mempelajari ilmu tanpa mengetahui maksud dari konsp keilmuan tersebut akan menjadi hambar.

“Seperti Iblis jika secara keilmuan mereka rajin, mereka ahli ilmu, tetapi mereka tidak menadapatkan tujuan ilmu tersebut. Tujuan ilmu yang diberikan Allah kepada hambaNya,” terang Syekh Ammar.  

“Hakikat ilmu itu apa? Orang belajar bukan sekedar membaca, bukan sekedar menghafal apa yang ingin dihafal. Namun lebih dari itu, ada 4 hal yang harus dipenuhi seorang santri untuk memperoleh hakikat ilmu itu sendiri.

Hakikat ilmu ada 4 :

Pertama, kesiapan seorang santri di dalam mempelajari dan mengaplikasikan ilmu tersebut. Kedua, kebersihan pola pikir, atau kecerdasan akal seorang  santri. Ketiga, akidah atau keyakinan yang baik atau yang sesuai dengan tuntunan Rosulullah saw. Karena ilmu ini akan melahirkan budipekerti yg baik, dan bagi pencari ilmu akan memiliki i’tikad yg baik. Keempat, metode yang disiapkan dimana metode tersebut yang sesuai dengan ajaran Rosulullah saw. Karena ilmu seharusnya melahirkan budi pekerti yang baik, akhlak yang baik, dan akan menjadikan sebuah keyakinan yang baik. 

Oleh karena itu hakekat ilmu itu adalah sebuah konsep memasukan ilmu ke dalam hati seseorang yang akan melahirkan sebuah akhlak dan I’tikad yang baik. Dan ini yang Baginda Nabi Muhammad saw ajarkan kepada para sahabat. Jadi ketika Baginda Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada para sahabat Baginda Nabi tidak hanya mengajarkan ilmu saja, tetapi juga memasukan ilmu tersebut kepada para sanubari sahabat, sehingga ini merupakan hakikat ilmu yang dimaksudkan Allah SWT.

Sebagaimana Baginda Nabi Muhammad mengajarkan iman kepada para sahabat, maka beliau mengajarkan sahabat tentang konsep Iman.

“Iman itu apa? Iman itu bentuk akhlak, bentuk adab ktia kepada Allah SWT. Kepada Makhluk-makhluk ciptaan Allah swt, adab kita kepada para malaikat. Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi memasukan ke dalam sanubari sahabat pemahaman tentang ilmu,” lanjut Syekh Ammar.  

Dan beliau menjeaskan ketika hakikat ilmu itu didapatkan para santri maka santri akan mendapat keutamaan dari ilmu tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran tentang keutamaan ilmu. 

Ummat Nabi Muhammad adalah Ummat yang Berilmu

Syekh Ammar menegaskan,

“Jika kta ingin menunjukan sebagai umatnya Nabi Muhammad, maka kita harus menunjukannya dengan ilmu. Kalau ummat Nbai Muhammad pintar maka akan mengalami kemajuan-kemajuan besar. Baghdad menjadi Kota Ilmu, begitu juga dengan Masjidil Aqsho menjadi universitas tua.”

Beliau mengisahkan tentang seorang ulama al-azhar bertemu dengan ilmuan Jepang, kemudian ulama Al-Azhar itu bertanya kepada ilmuan Jepang,

“Apa yang membuat Jepang itu maju, bahkan untuk pintu toilet saja bisa otomatis terbuka.”

Kemudian orang Jepang menjelaskan, Islam sebenarnya lebih dahulu maju di banding kami. Ilmuan Jepang takjub dengan penelitian-penelitian ilmuan Islam di masa lalu. Saat membaca sejarah Nabi Muhammad orang Jepang melihat potensi besar dari umat Islam bisa melejit lebih cepat dengan ajaran Islam. 1 orang Islam memiliki sebuah kepintaran atau kecerdasan sebanding dengan 5 orang.

Kenapa sekarang umat Islam mengalami kemerosotan dalam ilmu? Saat ditanya seperti itu ulama Al-Azhar menjawab, karena orang Islam saat ini lebih suka menmpatkan seseorang yang bukan ahli ilmu sebagai orang yang diikuti fatwanya seperti artis.

Syekh Ammar juga menuturkan bahwa tempat majelis seperti ini, adalah tempat kita mendapat pahala sebaik-baiknya.

“Sebagaimana sebaik-baik shodaqo menurut Imam Syafi’I adalah untuk orang yang mencari ilmu. Karena berinfak untuk orang yang mencari ilmu, dengan fasilitas yang kita berikan dia akan menjadi orang yang alim, dan dia akan bisa memberikan kemanfaatan dari ilmu yang dia miliki.”

Terakhir beliau mendoakan hadirin semoga Allah SWT selalu menajga tempat ini, menjaga para mencari ilmu di sini, dan menjaga Indonesia supaya maju dengan ilmuan-ilmuannya.  

Semoga dengan kehadiran Syekh Ammar dan ‘ulama lain di PP. Al-Maliki Pekalongan mampu membangkitkan semangat para santri mendalami ilmu agama dengan niat  yang lurus dan adab yang sesuai ajaran Baginda Nabi Muhammad saw, aamiin allahumma aamiin…. (*)

Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) Ponpes Al-Maliki Pekalongan Menerima Kunjungan TIM Verifikasi Lapangan PPD Kota Pekalongan

ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Kota Pekalongan – Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan mendapat kunjungan dari TIM Verifikasi Lapangan Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2024 Tahap II di Kota Pekalongan, pada Selasa (06/02/24). Kunjungan tersebut merupakan rangkaian penilaian dalam bidang Kebaruan INOVASI KAKAP EMAS (Kembalikan Kejayaan Perairan Pekalongan bagi Peningkatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat).

Tim Verifikasi Lapangan PPD tiba di Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan didampingi oleh Bpk Nur Prihantomo (Sekda Kota Pekalongan), Bpk Yuswanto (Bappeda Provinsi), Bpk Sayekti (Ka Bappeda Kota Pekalongan), Ibu Sevina (Bappeda Kota Pekalongan), Bpk Imron Rosyidi (Bappeda Kota Pekalongan) dan Bpk Sugiyo (Ka DKP Kota Pekalongan). Kunjungan tersebut disambut oleh Kepala Yayasan Al-Maliki Indonesia Pekalongan, Bpk Mohamad Alwi dan Koordinator Budidaya Lele Pondok Pesantren Al-Maliki, M. Ridias Maulana.

Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) merupakan 18 inovasi Perikanan yang ada di Kota Pekalongan dan termasuk dari lima tempat yang dikunjungi Tim Verifikasi Lapangan PPD di Kota Pekalongan. Untuk Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2024 Tahap II diikuti oleh Kota Pekalongan, Kota Magelang, dan Kabupaten Klaten.

Budidaya Ikan Lele yang ada di Pondok Pesantren Al-Maliki menggunakan metoe bioflok, dengan kolam berbentuk bundar yang dikembangkan di halaman Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan.

Sebagai lembaga pendidikan religius Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan tidak hanya membina santri dengan ilmu agama saja. Lebih dari itu, pembekalan untuk kehidupan di tengah masyarakat juga dipersiapkan, diantaranya dengan budidaya lele.

Budidaya Lele ini merupakan salah satu cara menumbuhkan mental wirausaha atau entrepreneurship dari santri. Budidaya Lele yang dikembangkan di lahan Pondok Pesantren Al-Maliki sudah berlangsung sejak tahun 2019. Biasanya dalam setahun Lele bisa dipanen tiga kali secara bertahap, sebagaimana keterangan yang disampaikan Saudara M. Ridias Maulana selaku koordinator Budidaya Lele.

“Setahun bisa tiga kali panen, setiap pagi ada penambahan air kolam setinggi sepuluh centimeter. Kemudian setiap bulan dilakukan penyortiran untuk memisahkan bibit yang besar,” jelasnya.

Penambahan benih lele Pondok Pesantren Al-Maliki juga tak lepas dari andil Dinas Perikanan Kota Pekalongan. Pada 29 Agustus 2022, benih lele bertambah sebanyak 32.000 ekor dengan tambahan delapan kolam diameter 4 meter.

“Semoga dengan adanya kolam lele dapat menunjang keberlangsungan kegiatan pondok dan jama’ah,” ungkap Pak Pras mewakili TIM Verifikasi Lapangan PPD. (*)

MTs Al-Maliki Cendekia Pekalongan Melaksanakan Studi Wawasan di SMP Al-Irsyad Purwokerto

ALMALIKIPEKALONGAN.NET – PURWOKERTO – MTs ALMALIKI CENDEKIA PEKALONGAN melakukan studi wawasan ke SMP AL-IRSYAD Boarding School Purwokerto pada Sabtu, 3 Februari 2024. Peserta studi wawasan merupakan tenaga pendidik MTs Al-Maliki Cendekia Pekalongan yang didampingi pengasuh Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin, beserta dewan Yayasan Al-Maliki Indonesia Pekalongan.

Rombongan disambut dengan baik oleh dewan pendidik serta jajaran unit yang terlibat dalam operasional sehari-hari SMP dan SMA Al-Irsyad Purwokerto, mulai dari bidang management, kurikulum, asrama, bahasa, unit psikologi dan unit bina prestasi.

Dalam studi wawasan tersebut, Al-Irsyad Al-Islamiyah Boarding School (AABS) memaparkan, tolak ukur keberhasilan dalam desain pendidikan Al-Irsyad lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter. Upaya pembentukan karakter didukung dengan kompetensi pendidik, baik dari asrama maupun sekolah.

Anak-anak yang sudah terbentuk karakternya akan memiliki motivasi mengembangkan diri baik dari segi akademisi maupun sosialisasi dengan lingkungan.

 

“Anak-anak diharapkan memiliki kapasiitas yang berbeda, terlebih dalam hal pribadinya.”

“Jika ada anak yang menolong teman, maka kami akan apresiasi. Kita beri nilai plus dalam segi karakternya,” tambah Bapak Parjiyana, S.Pd., Kons selaku perwakilan bidang psikologi SMA Al-Irsyad.

Bapak Eko Suwardi, S.Pd perwakilan dari unit bina prestasi Al-Irsyad Purwokerto membeberkan bahwa SMP Al-Irsyad melakukan pembinaan siswa-siswi SMP Al-Irsyad sampai ke jenjang Universitas. Anak-anak dibina dan diarahkan sesuai dengan hasil tes potensi akademik yang meliputi tes IQ dan tes minat bakat melalui data yang didukung oleh unit psikologi, dan disinkronkan dengan hasil riil pembelajaran siswa, juga koordinasi dengan orang tua.

Pada studi wawasan tersebut sharing dilakukan dengan tanya jawab, pihak dewan guru MTs Al-Maliki Cendekia dipersilahkan memberikan pertanyaan mengenai management, kurikulum, kesiswaan dan pengembangan yayasan.

Studi wawasan tersebut dilakukan dengan harapan dewan pendidik Al-Maliki Cendekia dapat mempelajari metode pendidikan yang sudah diterapkan di SMP Al-Irsyad Purwokerto, sebagai bahan pertimbangan dan pengembangan dalam membina siswa-siswi MTs Al-Maliki Cendekia Pekalongan..

Pungkas acara ditandai dengan penyerahan cinderamata yang diwakili oleh Bapak Sudrajat S.Sos., M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMA Al-Irsyad dan Bapak Anas Yoga Nugroho, S.Si., M.Si., selaku Kepala Sekolah MTs. Al-Maliki Cendekia Pekalongan. (*)

Kisah Sayyid Alawi, Hafidh Qur’an Setelah Menelan Ludah Gurunya

Sayyid Alawi, salah satu dari pilar pengajar masjidil haram pernah bercerita tentang dirinya,

“Aku menghafal Al Qur’an di tangan guruku As-Syekh Hasan As-Sunari.”

Syekh Hasan adalah Ahlul Qur’an, beliau tidak pernah meninggalkan waktunya sedikitpun, kecuali selalu membaca Al Qur’an. Bahkan karena kelekatan beliau dengan Al Qur’an di dadanya, beliau tidak pernah mengosongkan diri dari Al Qur’an, kecuali saat di kamar mandi. Konon kalau di kamar mandi, beliau selalu menggigit lidahnya sampai berlubang terkena gigitan. Hal ini dilakukan Syekh Hasan supaya tidak sampai membaca Al Qur’an di kamar mandi.

Beliau terkenal tegas dalam mendidik murid-muridnya, termasuk dengan 𝐒𝐚𝐲𝐲𝐢𝐝 𝐀𝐥𝐚𝐰𝐢 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 𝐀𝐥 𝐌𝐚𝐥𝐢𝐤𝐢.

Pernah pada suatu hari sang syekh berkata:

قم يا علوي!! وافتح فمك

ففتح السيد علوي فمه، وبصق الشيخ فم السيد

وقال : والله منذ ذا الحين، ما فى قلبي في قلبك

 

“Buka mulutmu, nak!” Setelah itu, beliau memasukan ludah beliau ke mulut Sayyid Alawi dan berkata,

“Mulai sekarang apa yang ada di dalam hatiku, ada di dalam hatimu,” tutur Syekh Hasan kepada Sayyid Alawi.

Sejak peristiwa itu, Sayyid Alawi diberi kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Beliau bisa langsung menghafal Al-Qur’an. Masih sangat belia, dalam usia 9 tahun beliau telah menyempurnakan hafalan Al-Qur’annya, kemudian beliau dijadikan salah satu dari imam Masjidil Haram.

Sayyid Alawi merupakan karim ibnil karim, ayah beliau Sayyid Abbas adalah Mufti dan Qodhi Makkah, serta khatib di Masjidil Haram.  Putra-putra beliau Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dan Sayyid Abbas bin Alawi Al-Maliki merupakan ‘ulama besar yang masyhur dan memiliki ribuan santri dari berbagai negeri.

Hikmahnya:

~ Seorang murid sudah seharusnya memiliki kesadaran untuk selalu berbaik sangka kepada sang guru, segala upaya yang dilakukan guru tidak mungkin lepas dari kemashlahatan murid-muridnya.

~ Kesabaran dan kebersihan hati seorang murid akan membawanya kepada keberhasilan.

Tuan Guru Sekumpul, Sosok Wali Qutub dari Bumi Martapura

AL-MALIKIPEKALONGAN.NET – KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani adalah ‘ulama masyhur dan sosok wali qutub dari Martapura, Kalimantan Selatan. Pusat dakwah Abah Guru Sekumpul berada di Musholla Ar-Raoudhoh, desa Sekumpul Martapura Kalimantan Selatan. Setiap tahunnya Haul Guru Sekumpul selalu dipadati jama’ah, dari berbagai penjuru pulau. Bahkan baru-baru ini, pada Haul Abah Guru Sekumpul yang ke-19 (14/01/2024), total jama’ah yang hadir cukup fantastis, mencapai angka 3.300.020 orang, sebagaimana yang diungkapkan Kapolres Banjar, AKBP Ifan Hidayat (banjarmasinpost).

Sepeninggalan Abah Guru Sekumpul, pimpinan dan Imam Majelis Habsyian / Simtud-Duror dilanjutkan oleh Tuan Guru Imam Sa’duddin yang masih memiliki jalur kekerabatan dan sudah dididik sebagaimana putra sendiri oleh Abah Guru Sekumpul. 

Sarasehan bersama Tuan Guru Imam Sa'duddin (24/03/2022)

Istiqomahnya Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni

Pada kunjungan Tuan Guru Imam Sa’duddin di Al-Maliki Pekalongan (24/03/2023), beliau menceritakan bagaimana sosok Tuan Guru  Sekumpu. Beliau menegaskan, yang lebih utama dari segala sesuatu itu istiqomah. Konsisten di dalam melakukan suatu ibadah, al-istiqomah khoirun min alfi karoomah.

Sebagaimana yang dicontohkan Abah Guru Sekumpul, sejak mulai membuka Majelis, terutama Majelis Al-Habsyi Simtud-Durror, semenjak beliau mendapatkan Maulid itu dari Habib Zein Al-Habsyi, murid dari pada Shohibul Maulid, kurang lebih di tahun 1967 (di bawah tahun 1970), setelah beliau mendapatkan perintah membacakan Maulid Habsyi itu dimulai dari dua, tiga orang yang tidak begitu banyak.

Sampai wafatnya Tuan Guru Sekumpul tidak pernah meninggalkan Majelis itu, kecuali ada udhur syar’i. Seperti saat beliau sakit, dan pada saat beliau berangkat haji di tahun 1980 karena kewajiban membawa orang tua, saudara, keponakan, dan keluarga yang jumlahnya hampir 300 orang. Yang paling utama karena beliau melakukan kewajiban berbakti kepada orang tua sebagai mughrib, dan membawa istri sebagai mughrib.

Juga pada saat beliau berangkat umroh di tahun 2000 ke atas 3 tahun sebelum beliau wafat, setelah Nisfu Sya’ban Majelis istirahat, dan seminggu setelah idul fitri baru mulai lagi. 

Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin sebagai Khodimul Majelis Ta'lim & Ponpes Al-Maliki Pekalongan

Perjalanan Tuan Guru Sekumpul Menimba Ilmu dengan Ulama di Pulau Jawa

Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni mendapat ilmu dhohir dari paman beliau Syaikh Saman Haji Mulia, Tuan Guru Anang Sya’roni, yang sanadnya sampai kepada pengarang kitab yang dibaca. Baik itu amaliyah, seperti membaca Dalail, Burdah, dan Rottibul Haddad. Beliau memang tidak pernah lama belajar di Makkah, tapi guru beliau adalah sosok yang menimba ilmunya di Makkah.

Mengenai tarbiyah yang mewakili ilmu bathiniyahnya Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni adalah Tuan Guru Muhammad Syarwani Abdan, Bangil Pasuruan. Sebelum th 1965, setelah belajar di Pondok Darussalam, beliau diminta mengajar. Beliau membuka Majelis ketika masih di Keratu, kemudian beliau mendapat fitnah. Beliau di bawa oleh Paman beliau ke Bangil, dan  di sanalah beliau bertemu dengan Tuan Guru Syarwani.

Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni akhirnya digembleng, selama 40 hari beliau selalu berduaan dengan Tuan Guru Syarwani. Aktivitas keseharian beliau semua di dalam tarbiyahnya Tuan Guru Syarwani.

Mujahaddahnya itu hanya boleh tidur selama 2 jam. Tutur katanya tidak keluar kecuali ilmu, ibadah atau baca kitab.  Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni juga tidak diperkenankan berteman keculai dengan Tuan Guru Syarwani Abdan. Kalau Guru Syarwani pergi Tuam Guru Sekumpul diajak serta.

Waktu tidur beliau terbatas, dan makan beliau juga terbatas. Diceritakan pada saat beliau mujahaddah di bulan Ramadhan, beliau berbuka dengan 1 biji pisang, dan sahurnya dengan 2 pisang. Satu kali 24 jam beliau makan 3 biji pisang.

Akhlak beliau terhadap gurunya juga luar biasa. Beliau tidak pernah lepas dari meminta arahan dan bimbingan guru Bangil. Begitu juga pada saat Tuan Guru Imam Sa’duddin bertanya kepada Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni tentang sebuah harokat, beliau tidak berani memutuskan sendiri. Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni mengirim surat kepada Tuan Guru Bangil, dan setelah mendapat jawaban baru memberi penjelasan kepada Tuan Guru Imam Sa’duddin. Jadi, sejak tahun 1965-1989 beliau meminta petunjuk kepada Guru Bangil, termasuk dalam perihal kitab yang akan digunakan untuk pengajian kitab, dan pada saat beliau hendak menikah.

Dari guru Bangil beliau kemudian belajar kepada Kyai Falaq Pagentongan Bogor, setelah itu pada tahun 1969/ 1970 beliau berangkat haji ketika masih bujang dengan naik kapal laut, dan beliau digembleng lagi oleh Sayyid Amin Qutbi.

Pesan Orang Tua Tuan Guru Sekumpul

Sebagaimana Syekh Abdul Qodir Al-Jailany yang menta’ati pesan Ibundanya, KH. Muhammad Zaini Abdul Ghoni juga melakukan hal yang sama. Orang tua Abah Guru Sekumpul berpesan, “Selama gurumu tidak meliburkan, kamu tidak boleh pulang. Tunggu sampai guru datang sekalipun itu berjam-jam.”

Jadi beliau pada saat beliau nyantri, Abah Guru Sekumpul tidak pernah absen dan selama guru tidak mengatakan libur, pasti beliau akan menunggu. Pernah beliau pada saat belajar dengan Tuan Guru Anang Sya’roni, Tuan Guru Anang Sya’roni tidak hadir, kemudian beliau tunggu, dan beliau cari lebih dari sejam. Setelah ketemu Tuan Guru Anang Sya’roni, beliau mengaji. 

Sarasehan bersama Tuan Guru Imam Sa'duddin di Joglo Kyai Ageng Pekalongan

Akhlak Tuan Guru Sekumpul Terhadap Orang yang Memusuhi

Tuan Guru Imam Sa’duddin, menuturkan dari amaliyah keseharian Tuan Guru sekumpul yang sangat perlu diketahui adalah akhlak beliau. Karena sebagaimana Allah SWT memuji akan kekasihnya Nabi Muhammad SAW, wa innaka ‘alaa khuluqin adhiim… Bahwa setiap orang-orang besar, wali, tambah besar tambah banyak yang memusuhi. Karena itu merupakan sunnah Rosul. Rosulullah pun dimusuhi, bahkan ada yang ingin membunuh. Orang yang mutaba’ah dengan jalannya Rosulullah pasti ada yang memusuhi, ada yang membenci, ada yang menghina, mengolo-olok, dan macam-macam. Begitu juga dengan Tuan Guru Sekumpul.

Guru Sekumpul itu akhlaknya dengan orang-orang yang memusuhi, sudah terlebih dahulu memaafkan sebelum orang tersebut berbuat kesalahan. Bagaimana realita beliau merespons orang yang memusuhi tersebut dengan hati dingin. Ada di dalam kitab yang dipegang Habaib dan dijadikan amaliyah oleh Guru Sekumpul, dan tertera juga dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin yang merupakan perintah dari guru Bangil.

Terhadap orang yang memusuhi, Tuan Guru Sekumpul berkata kepada orang-orang , “Demi Allah itu adalah guruku.”

Sehingga pada saat itu gempar. Yang dikatakan beliau, orang yang memusuhi tersebut guru beliau di hadapan ribuan orang. Berbagai macam tafsir muncul di antara muhibbinnya yang mengetahui perihal kebencian orang tersebut. Para muhibbinnya pun memahai setelah bertahun-tahun, ternyata dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, ada kalam Imam Ghazali yang mengatakan, yang memusuhi itulah gurumu. Karena bagaimanapun orang yang memusuhi itu dengan berbagai cara mencari celah-celah dengan habis-habisan menghantam, menghujat dan mencela. Karena kitab yang dipegang habaib, yang mengajarkan itu memandang dengan kasih sayang, Guru Sekumpul membalas orang-orang yang berbuat jahat dengan kasih sayang.

Tuan Guru Imam Sa’duddin menceritakan, pernah suatu kejadian waktu malam tahun 90-an, ada satu ulama berkata, “Bukan ini yang namanya ‘ulama sufi. ‘Ulama sufi itu begini, begini, intinya mengkritik kepada beliau. Tidak begitu lama orang tersebut ada keperluan.  Kemudian Imam Sa’duddin dipanggil Tuan Guru Sekumpul, untuk menyerahkan uang senilai 12jt kepada orang tersebut karena ada keperluan.

Begitu juga ketika beliau pertama kali mengadakan Qosidah Burdah memakai rebana beliau diprotes. Beliau bercerita masyayikh yang berada di Darussalam, bahwa dikirimi surat kaleng yang melarang beliau membawakan maulid dengan rebana, lalu beliau meminta  pendapat masyayikh yang hadir di tempat itu. Semua diam. Belaiu menjawab, saya kembalikan suratnya dengan isi balasan suratnya apa? Segepok uang. Jadi beliau membalas orang yang memusuhi dengan sifat kasih sayang.

Pernah suatu ketika beliau dibawa orang yang memusuhi ke rumahnya, mau dihajar tapi tidak terlaksana. Orang ini yang Tuan Guru Sekumpul katakan sebagai guru beliau. Sebenarnya banyak dari kalangan muhibbin yang ingin membalaskan. Ada seorang muhibbin yang ingin membalaskan, tanpa sepengetahuan beliau. Begitu orang itu mau keluar dari rumahnya, beliau datang, dan berkata, “Stop, jangan bikin onar,”

Tuan Guru Sekumpul dalam 1×24 jam  itu secara amaliyahnya selain mengajar, beliau membimbing jama’ah. Antara ba’da Maghrib ke Isya membaca Yasiin, Al-Mulk, dan Rottibul Haddad. Setiap seminggu sekali membaca burdah di malam jum’at, membaca Yaasin, Dalailul Khoirot di waktu shubuh, selain dari itu belau mengajar. Itu yang secara umum, kebanyakan amalannya adalah sholawat.  Di Thoriqoh Samaniyah yang beliau sampaikan, dan sebelumnya juga ada Thoriqoh Syadziliyah.

Tuan Guru Zaini Abdul Ghoni, dan Tuan Guru Abdus Syakur merupakan guru KH. Muhammad Saifuddin Amirin. Sanad Tuan Guru Abdus Syakur, ke Tuan Guru  Anang Sya’roni, ke Syaikh Umar Khamdan. Beliau termasuk cicitnya Syaikh Arsyad Al-Banjari (Datuk Kalampayan).

Dalam berbagai kajian, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin sering menceritakan sosok Abah Guru Sekumpul, salah satunya tentang kiblat beliau dengan Abah Guru Sekumpul. Nama Sekumpul pun menjadi nama yang diabadikan Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin di salah satu Gazebo yang ada di Al-Maliki Pekalongan. (*)

NIAT BAIK

Dikisahkan, pada suatu ketika ada segerombolan pencuri pergi untuk merampok rombongan pedagang. Ketika malam mulai datang, mereka berhenti di pepondokan yang ada di hutan, dengan maksud untuk menginap di sana. Mereka mengetuk rumah dan mengatakan pada penghuninya bahwa mereka termasuk pasukan perang.

 

Sang penghuni pun membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk dengan penuh keramahan. Melayani mereka dengan sepenuh hati dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan lantaran mereka, serta mencari berkah dari mereka.

 

Pemilik rumah itu memiliki anak yang lumpuh dan tidak bisa berdiri. Ia mengambilkan sisa makanan dan minuman para perampok tadi. Ia berkata kepada istrinya, “Usaplah anak kita dengan ini! Mudah-mudahan ia bisa sembuh dengan berkah pasukan perang itu.” Sang istri pun melakukan perintah suaminya.

 

Ketika matahari mulai terbit, perampok pergi ke luar desa. Mereka merampok beberapa harta, kemudian mereka kembali ke pondok saat matahari terbenam. Mereka kaget melihat anak pemilik pondok bisa berdiri dengan normal.

 

“Bukankah kemarin kami melihat anak ini masih lumpuh?” tanya para perampok itu.

 

“Memang benar, karena setelah aku mengambil sisa makanan dan minuman kalian, dan mengusapkan pada anakku, ternyata Allah menyembuhkannya dengan lantaran berkah dari kalian.” Jawab sang pemilik rumah.

 

Setelah itu, para perampok menangis tersedu-sedu. Mereka berkata, “Kami bukanlah pasukan perang, melainkan kami adalah perampok. Dan tujuan kami adalah merampok. Sesungguhnya Allahlah yang telah menyembuhkan anakmu sebab baiknya niatmu. Dan kami akan bertobat kepada Allah.”

 

Kemudian merekapun bertobat dan menjadi pasukan perang yang berjuang dijalan Allah sampai ajal menjemput. (diambil dari kitab al fawaid fi hikayatil ajibah).

 

Hikmahnya, niat baik akan menghasilkan baik walaupun salah dalam berbuat baik, karena pandangan niat lebih besar dari pada amal. Sesuai dengan hadist : نية المؤمن خير من عمله

 

Niat baik lebih baik dari amal. Sebagaimana yang dituturkan KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), “lebih baik orang jelek yang berniat baik dari pada orang baik berniat buruk.”

 

Rasulullah SAW bersabda:

إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

Artinya: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan,” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Rasulullah SAW bersabda:

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

Artinya: “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati,” (HR. Bukhari).

 

Berprasangka baik akan mengalahkan segalanya. Lebih baik salah dalam berprasangka baik dari pada salah tidak berprasangka baik.

 

Karena Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِيْ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika berprasangka buruk, maka ia mendapatkan keburukan.” (HR. Ahmad).

 

*kisah diambil dari kitab al fawaid fi hikayatil ajibah

error: Content is protected !!