Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) Ponpes Al-Maliki Pekalongan Menerima Kunjungan TIM Verifikasi Lapangan PPD Kota Pekalongan

ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Kota Pekalongan – Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan mendapat kunjungan dari TIM Verifikasi Lapangan Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2024 Tahap II di Kota Pekalongan, pada Selasa (06/02/24). Kunjungan tersebut merupakan rangkaian penilaian dalam bidang Kebaruan INOVASI KAKAP EMAS (Kembalikan Kejayaan Perairan Pekalongan bagi Peningkatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat).

Tim Verifikasi Lapangan PPD tiba di Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan didampingi oleh Bpk Nur Prihantomo (Sekda Kota Pekalongan), Bpk Yuswanto (Bappeda Provinsi), Bpk Sayekti (Ka Bappeda Kota Pekalongan), Ibu Sevina (Bappeda Kota Pekalongan), Bpk Imron Rosyidi (Bappeda Kota Pekalongan) dan Bpk Sugiyo (Ka DKP Kota Pekalongan). Kunjungan tersebut disambut oleh Kepala Yayasan Al-Maliki Indonesia Pekalongan, Bpk Mohamad Alwi dan Koordinator Budidaya Lele Pondok Pesantren Al-Maliki, M. Ridias Maulana.

Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) merupakan 18 inovasi Perikanan yang ada di Kota Pekalongan dan termasuk dari lima tempat yang dikunjungi Tim Verifikasi Lapangan PPD di Kota Pekalongan. Untuk Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2024 Tahap II diikuti oleh Kota Pekalongan, Kota Magelang, dan Kabupaten Klaten.

Budidaya Ikan Lele yang ada di Pondok Pesantren Al-Maliki menggunakan metoe bioflok, dengan kolam berbentuk bundar yang dikembangkan di halaman Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan.

Sebagai lembaga pendidikan religius Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan tidak hanya membina santri dengan ilmu agama saja. Lebih dari itu, pembekalan untuk kehidupan di tengah masyarakat juga dipersiapkan, diantaranya dengan budidaya lele.

Budidaya Lele ini merupakan salah satu cara menumbuhkan mental wirausaha atau entrepreneurship dari santri. Budidaya Lele yang dikembangkan di lahan Pondok Pesantren Al-Maliki sudah berlangsung sejak tahun 2019. Biasanya dalam setahun Lele bisa dipanen tiga kali secara bertahap, sebagaimana keterangan yang disampaikan Saudara M. Ridias Maulana selaku koordinator Budidaya Lele.

“Setahun bisa tiga kali panen, setiap pagi ada penambahan air kolam setinggi sepuluh centimeter. Kemudian setiap bulan dilakukan penyortiran untuk memisahkan bibit yang besar,” jelasnya.

Penambahan benih lele Pondok Pesantren Al-Maliki juga tak lepas dari andil Dinas Perikanan Kota Pekalongan. Pada 29 Agustus 2022, benih lele bertambah sebanyak 32.000 ekor dengan tambahan delapan kolam diameter 4 meter.

“Semoga dengan adanya kolam lele dapat menunjang keberlangsungan kegiatan pondok dan jama’ah,” ungkap Pak Pras mewakili TIM Verifikasi Lapangan PPD. (*)

MTs Al-Maliki Cendekia Pekalongan Melaksanakan Studi Wawasan di SMP Al-Irsyad Purwokerto

ALMALIKIPEKALONGAN.NET – PURWOKERTO – MTs ALMALIKI CENDEKIA PEKALONGAN melakukan studi wawasan ke SMP AL-IRSYAD Boarding School Purwokerto pada Sabtu, 3 Februari 2024. Peserta studi wawasan merupakan tenaga pendidik MTs Al-Maliki Cendekia Pekalongan yang didampingi pengasuh Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin, beserta dewan Yayasan Al-Maliki Indonesia Pekalongan.

Rombongan disambut dengan baik oleh dewan pendidik serta jajaran unit yang terlibat dalam operasional sehari-hari SMP dan SMA Al-Irsyad Purwokerto, mulai dari bidang management, kurikulum, asrama, bahasa, unit psikologi dan unit bina prestasi.

Dalam studi wawasan tersebut, Al-Irsyad Al-Islamiyah Boarding School (AABS) memaparkan, tolak ukur keberhasilan dalam desain pendidikan Al-Irsyad lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter. Upaya pembentukan karakter didukung dengan kompetensi pendidik, baik dari asrama maupun sekolah.

Anak-anak yang sudah terbentuk karakternya akan memiliki motivasi mengembangkan diri baik dari segi akademisi maupun sosialisasi dengan lingkungan.

 

“Anak-anak diharapkan memiliki kapasiitas yang berbeda, terlebih dalam hal pribadinya.”

“Jika ada anak yang menolong teman, maka kami akan apresiasi. Kita beri nilai plus dalam segi karakternya,” tambah Bapak Parjiyana, S.Pd., Kons selaku perwakilan bidang psikologi SMA Al-Irsyad.

Bapak Eko Suwardi, S.Pd perwakilan dari unit bina prestasi Al-Irsyad Purwokerto membeberkan bahwa SMP Al-Irsyad melakukan pembinaan siswa-siswi SMP Al-Irsyad sampai ke jenjang Universitas. Anak-anak dibina dan diarahkan sesuai dengan hasil tes potensi akademik yang meliputi tes IQ dan tes minat bakat melalui data yang didukung oleh unit psikologi, dan disinkronkan dengan hasil riil pembelajaran siswa, juga koordinasi dengan orang tua.

Pada studi wawasan tersebut sharing dilakukan dengan tanya jawab, pihak dewan guru MTs Al-Maliki Cendekia dipersilahkan memberikan pertanyaan mengenai management, kurikulum, kesiswaan dan pengembangan yayasan.

Studi wawasan tersebut dilakukan dengan harapan dewan pendidik Al-Maliki Cendekia dapat mempelajari metode pendidikan yang sudah diterapkan di SMP Al-Irsyad Purwokerto, sebagai bahan pertimbangan dan pengembangan dalam membina siswa-siswi MTs Al-Maliki Cendekia Pekalongan..

Pungkas acara ditandai dengan penyerahan cinderamata yang diwakili oleh Bapak Sudrajat S.Sos., M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMA Al-Irsyad dan Bapak Anas Yoga Nugroho, S.Si., M.Si., selaku Kepala Sekolah MTs. Al-Maliki Cendekia Pekalongan. (*)

Kisah Sayyid Alawi, Hafidh Qur’an Setelah Menelan Ludah Gurunya

Sayyid Alawi, salah satu dari pilar pengajar masjidil haram pernah bercerita tentang dirinya,

“Aku menghafal Al Qur’an di tangan guruku As-Syekh Hasan As-Sunari.”

Syekh Hasan adalah Ahlul Qur’an, beliau tidak pernah meninggalkan waktunya sedikitpun, kecuali selalu membaca Al Qur’an. Bahkan karena kelekatan beliau dengan Al Qur’an di dadanya, beliau tidak pernah mengosongkan diri dari Al Qur’an, kecuali saat di kamar mandi. Konon kalau di kamar mandi, beliau selalu menggigit lidahnya sampai berlubang terkena gigitan. Hal ini dilakukan Syekh Hasan supaya tidak sampai membaca Al Qur’an di kamar mandi.

Beliau terkenal tegas dalam mendidik murid-muridnya, termasuk dengan 𝐒𝐚𝐲𝐲𝐢𝐝 𝐀𝐥𝐚𝐰𝐢 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 𝐀𝐥 𝐌𝐚𝐥𝐢𝐤𝐢.

Pernah pada suatu hari sang syekh berkata:

قم يا علوي!! وافتح فمك

ففتح السيد علوي فمه، وبصق الشيخ فم السيد

وقال : والله منذ ذا الحين، ما فى قلبي في قلبك

 

“Buka mulutmu, nak!” Setelah itu, beliau memasukan ludah beliau ke mulut Sayyid Alawi dan berkata,

“Mulai sekarang apa yang ada di dalam hatiku, ada di dalam hatimu,” tutur Syekh Hasan kepada Sayyid Alawi.

Sejak peristiwa itu, Sayyid Alawi diberi kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Beliau bisa langsung menghafal Al-Qur’an. Masih sangat belia, dalam usia 9 tahun beliau telah menyempurnakan hafalan Al-Qur’annya, kemudian beliau dijadikan salah satu dari imam Masjidil Haram.

Sayyid Alawi merupakan karim ibnil karim, ayah beliau Sayyid Abbas adalah Mufti dan Qodhi Makkah, serta khatib di Masjidil Haram.  Putra-putra beliau Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dan Sayyid Abbas bin Alawi Al-Maliki merupakan ‘ulama besar yang masyhur dan memiliki ribuan santri dari berbagai negeri.

Hikmahnya:

~ Seorang murid sudah seharusnya memiliki kesadaran untuk selalu berbaik sangka kepada sang guru, segala upaya yang dilakukan guru tidak mungkin lepas dari kemashlahatan murid-muridnya.

~ Kesabaran dan kebersihan hati seorang murid akan membawanya kepada keberhasilan.

error: Content is protected !!