Nur Muhammad : Cahaya Ilahi yang Menyinari Semesta

Oleh : Dewi Faila Shofa 

Nur Muhammad : Cahaya Ilahi yang Menyinari Alam Semesta

Kota Pekalongan  – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Syekh Muhammad Husain Furqon dari Australia hadir untuk memberikan tausiyah dalam acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Ponpes Salaf Al-Maliki Pekalongan (21/09/25). Dalam Tausiyahnya beliau mengisahkan tentang peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Beliau menyampaikan rasa syukur karena dapat menghadiri majelis penuh keberkahan dalam rangka mengagungkan Maulid Nabi Muhammad SAW. ‘Alhamdulillah, majelis malam hari ini tampak dipenuhi kebahagiaan dalam memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW,’ ungkap beliau.”

Syekh Muhammad Husain Furqon menerangkan bahwa pada saat kelahiran Nabi Muhammad SAW Terdapat kejadian-kejadian khusus seakan-akan dunia dan seisinya itu terhenti hanya untuk memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW bahkan kedzoliman-kedzoliman yang terjadi saat itu semua terhenti saat Rasulullah SAW lahir.

Silsilah Nabi Muhammad SAW berasal dari garis keturunan Nabi Ismail AS dari garis keturunan ini berlanjut hingga Bani Hasyim, salah satu suku terhormat di kalangan Quraisy di Mekkah. Bani Hasyim inilah yang kemudian melahirkan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. 

Nabi Muhammad SAW diciptakan oleh Allah dari cahaya (nur) yang mulia, dan cahaya itu menjadi sumber penciptaan alam semesta beserta isinya. Dalam sejarah kenabian, banyak nabi terdahulu yang memberikan kabar gembira kepada kaumnya tentang kedatangan Nabi akhir zaman, yaitu Nabi Agung Muhammad SAW. Bahkan Nabi Isa AS memberikan peringatan dan kabar gembira tentang kedatangan seorang nabi akhir zaman yang diberi nama Ahmad, yang berarti “yang menggembirakan”, sebagai tanda rahmat bagi seluruh umat manusia. Diterangkan dalam Al-Qur’an Surat As-Saff ayat 6 yang berbunyi : 

واذ قال عيسى ابن مريم يبني اسرائيل اني رسول الله اليكم مصدقا لما بين يديَ من التورة ومبشرا برسول يأتي من بعد اسمه احمد فلما جاءهم بالبينات قالوا هذا سهر مبين  

“(ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).” Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata’.”

Rahmat bagi Seluruh Alam: Kisah Agung Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Kelahiran Nabi Muhammad SAW disambut dengan berbagai tanda luar biasa yang menunjukkan kebahagiaan dan keberkahan bagi alam semesta. Di antaranya, api suci yang dipuja oleh kaum Majusi di Iran, yang telah menyala selama ribuan tahun tanpa pernah padam, tiba-tiba mati seketika saat Nabi Muhammad SAW lahir. Tak hanya itu, cahaya putih yang sangat terang muncul di negeri Syam, menyinari seluruh muka bumi. Semua peristiwa ini menjadi bukti nyata kebahagiaan dan keberkahan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan kedatangan beliau, zaman kegelapan dan kejahiliahan mulai berakhir, digantikan oleh zaman yang penuh dengan cahaya ilmu dan petunjuk. Banyaknya malaikat yang bersyukur atas keberadaan Nabi Muhammad SAW menunjukkan betapa besar kehormatan dan kemuliaan yang diberikan kepadanya oleh Allah SWT.

Menghidupkan Sunnah, Mewujudkan Cinta pada Nabi

Kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya diwujudkan dengan mengikuti ajaran dan sunnahnya secara maksimal dalam setiap aspek kehidupan. Beliau diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam, membawa pesan kasih sayang dan petunjuk bagi manusia. Seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an,

وما ارسلناك الا رحمة للعالمين

Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Kasih sayang Nabi SAW tidak hanya terbatas pada umatnya, tetapi juga mencakup musuh-musuhnya, menunjukkan betapa luas dan dalam kasih sayang yang beliau tunjukkan. Dengan meneladani sifat kasih sayang ini, kita bisa memperkuat iman dan meningkatkan kualitas hidup sesuai dengan ajaran Islam.

Semoga kita semua bisa meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW dan menjadi bagian dari umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Amin.

Menelisik Perbedaan Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi Bersama Syekh Husein Furqon dari Australia

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Kamis, 18 September 2025 Syekh Husein Furqon dari Australia memberikan kultum shubuh di PP. Salaf Al-Maliki Pekalongan yang bertempat di Maqbaroh Mbah Wali Jenggot. Dalam kehadirannya tersebut para santri berkesempatan memperdalam pengetahuan dengan beliau mengenai perbedaan madzhab Imam Syafi’i dan Imam Hanafi.

Syekh Husein Furqon merupakan sosok ulama asal Gujarat India yang menetap di Australia dan baru pertama kalinya melakukan kunjungan ke Indonesia dan menjadikan Pondok Pesanten Al Maliki Pekalongan sebagai tujuan utama. Ini menunjukkan  ketertarikan beliau terhadap tradisi keilmuan Islam di Indonesia, khususnya di Al Maliki yang dikenal dengan kajian mendalam tentang ilmu-ilmu agama. 

Perbedaan dalam Ibadah Sholat

 Dalam kajian tersebut beliau menjelaskan beberapa perbedaan antara Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi, seperti dalam ibadah sholat.

Dalam pandangan madzhab Imam Hanafi, melafalkan basmalah dan amin ketika membaca surat Al-Fatihah dalam shalat dilakukan secara lirih (sirr) bukan dengan suara keras (jahr).

Pada shalat Subuh, doa qunut yang biasa dikenal dalam madzhab Syafi’i tidak dijumpai dalam madzhab Hanafi, melainkan doa yang diwajibkan justru terdapat pada shalat witir setelah shalat ba’diyah Isya. Apabila seorang makmum berbeda madzhab dengan imam, maka ia tetap diwajibkan mengikuti imamnya.

Perbedaan juga tampak pada jumlah minimal jamaah shalat Jum’at, di mana madzhab Syafi’i mensyaratkan 40 orang, sedangkan madzhab Hanafi hanya mensyaratkan 4 orang. Meskipun demikian, keduanya sepakat bahwa khutbah shalat Jum’at dilaksanakan sebanyak dua kali.

Sudut Pandang dalam Ath'imah

Syekh Husein Furqon menuturkan, sudut pandang madzhab Syafi’I dan Hanafi juga dijumpai dalam hukum ath’imah. Dalam hal hukum memakan daging yang diharamkan, seperti anjing dan babi, kedua madzhab memberikan keringanan ketika seseorang berada dalam keadaan darurat (dhorurot), yaitu kondisi kelaparan yang mengancam jiwa hingga tidak ada makanan lain selain daging tersebut. Dalam situasi demikian, seseorang diperbolehkan memakannya sekadar untuk mempertahankan hidup, tidak sampai berlebihan.

Menariknya, menurut madzhab Hanafi, jika seseorang tanpa sengaja memakan daging anjing atau babi karena menyangka itu daging sapi, lalu baru menyadari kebenarannya setelah beberapa hari, maka hal itu tidak dianggap sebagai perbuatan maksiat dan tidak menimbulkan dosa, karena dilakukan tanpa pengetahuan. Semoga dengan kehadiran beliau di PP. Salaf Al-Maliki Pekalongan menambah keberkahan ilmu dan  wawasan santri dalam mempelajari fikih lintas madzhab.(*)

Syekh Muhammad Ibn Amin Al-Jailani Mengajak Santri Belajar Kesabaran dan Makhorijul Huruf dalam Dauroh Kitab di PP. Al-Maliki Pekalongan

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET- Cicit Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Syekh Muhammad bin Amin Ad-Duhaiby Al-Jailani dari Lebanon hadir di PP. Al-Maliki Pekalongan (11/05/2025). Dalam kehadirannya tersebut beliau membedah dan mengijazahkan kitab kepada santri PP. Al-Maliki Pekalongan.

KH. Muhammad Saifuddin Amirin, pengasuh PP. Al-Maliki Pekalongan menceritakan silsilah Syekh Muhammad bin Amin Al-Jailani. Ayahnya Syekh Amin Ad-Duhaiby Al-Jailani memiliki hubungan yang erat dengan Al-Maliki. Datuknya beliau disebut Ad-Duhaibi  karena datuknya tersebut gemar melakukan perjalanan jauh melintasi dunia. Syekh Muhammad bin Amin Al-Jailani merupakan cicit  ke28 Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, ulama besar dan pelopor sufi yang sangat masyhur, yang memiliki banyak karangan kitab dan segudang karomah.

“Syekh Abdul Qodir Al-Jailani memiliki berbagai keramat, dan keramat terbesar beliau adalah ittiba’ dengan Rosulullah saw. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani senantiasa berpegangan pada ajaran Al-Qur’an dan hadits-haditsnya Rosulullah saw,” tutur KH. Muhammad Saifuddin Amirin.

Syekh Muhammad bin Amin Al-Jailani mengupas kitab Thouqul ‘Itq ‘Ala Arba’iiniyyatir Rifqi karya Syekh Thoriq Ibn Muhammad Sardar Ali, yang berisi 40 hadits tentang kelembutan di hadapan santri PP. SALAF AL-MALIKI dan Santri PP. ALMALIKI CENDEKIA di Joglo Kyai Ageng Pekalongan.

“Saya senang karena bertemu, insya Allah semua hajat qobul, Insya Allah,” ungkap Syekh Muhammad.

Agama yang diturunkan kepada Rosulullah saw adalah agama kasih sayang, agama yang berisi kelembutan. Syekh Muhammad bin Amin Al-Jailani menerangkan bahwa sifat dari seorang muslim saljng santun dan saling mema’afkan.

“Kalau ada suatu kaum yang dikehendaki oleh Allah swt, maka penduduknya akan diliputi  dengan kasih sayang. Namun jika ada suatu kaum yang tidak dikehendaki oleh Allah swt, maka penduduknya pasti penuh dengan permusuhan. Kalo kita mau termasuk golongan orang yang rofiq, maka kita juga harus menjadi lembut. Golongan yang akan mendapat naunganya Allah,” tutur Syekh Muhamamd melalui penerjemahnya, Ustadz Alvin Hidayat.

Syekh Muhammad bin Amin Al-Jailani juga menceritakan salah satu sosok ‘ulama yang  patut dijadikan teladan dalam kesabaran. Suatu ketika beliau berjumpa dengan Kyai Abu Yazid Busthomi dari Bogor yang pada saat itu berusia 128th. Kemudian Kyai Abu Yazid Busthomi memberi nasehat kepada Syekh Muhammad Amin, “Hai Syekh Muhammad, harus latihan sabar, karena sampai sekarang saya juga masih belajar sabar.” Meskipun gurunya sudah berusia 128th namun tetap belajar sabar.

Dalam kesempatan tersebut Syekh Muhammad bin Amin Al-Jailani juga mentahsin bacaan Al-Qur’an santri PP. Al-Maliki Pekalongan. Beliau menerangkan sifat-sifat dan makhorijul huruf dengan memberikan contoh secara langsung, dan menyertai santri untuk bersama-sama mempraktekannya. Semoga dengan kehadiran Syekh Muhammad bin Amin Ad-Duhaiby Al-Jailani di ALMALIKI mengalirkan barokah ilmu dan manfa’at untuk PP. ALMALIKI, terkhusus untuk para santri, aamiin allahumma aamiin…(*)

Kepala MAN IC Pekalongan Beberkan Rahasia Menjadi Santri Sukses Pada Acara PSB MTs ALMALIKI CENDEKIA Boarding School

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, M.Pd.I., beberkan rahasia menjadi santri sukses pada acara penerimaan santri baru MTs ALMALIKI CENDEKIA Boarding School, Minggu (21/07/24).  Dalam sambutanya, sosok orang nomor satu MAN IC Pekalongan yang akarab disapa Pak Rektor itu menyampaikan,

“Jika ingin menjadi santri sukses lakukan 4 hal, kata Pak Kyai…,” kata Pak Rektor.

Pertama, niat mencari ilmu. Beliau mengutip QS. Al-Mujadalah ayat 11.

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Yang diangkat oleh Allah itu bukan karena nilainya baik, akan tetapi karena mempunyai ilmu,” tegas Bapak Khoirul Anam.

Kedua, adab. Adab di atas ilmu.

“Apa artinya insan cendekia kalau sama orang tuanya nggak ta’at, sama ustadz-ustadzahnya nggak ta’at, sama Kyainya nggak ta’dhim?

Ketiga, mempunyai harapan untuk membahagiakan kedua orang tua kita.

Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Kisah Berbuah Manis Berkat Ta'at Pada Orang Tua

Kepala MAN IC Pekalongan berbagi pengalaman menarik terkait harapan membahagiakan orang tua yang membuahkan kisah manis. Beliau menceritakan usai lulus SMP beliau ingin sekali mondok di Lirboyo, karena teman-teman ayah beliau mondoknya di Lirboyo. Namun siapa sangka Ayah beliau menginginkan putranya melanjutkan studi kependidikan guru agama. Karena ta’atnya beliau kepada orang tua akhirnya beliau memutuskan untuk mengikuti arahan ayahandanya.

Setelah 27 tahun berlalu, beliau berkesempatan sowan langsung dengan para masyayikh lirboyo dan Kyai-Kyai alumni Lirboyo dengan wasilah Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin.

“Setelah sekitar 27 tahun baru terjawab, bisa sowan kepada kyai-kyai sepuh di Lirboyo, tapi nggak berani kalau tanpa wasilah beliau (Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin).”

Generasi Ulul Albab

Sepak terjang siswa-siswi MTs ALMALIKI CENDEKIA tidak bisa dianggap sebelah mata. Meski baru angkatan pertama, prestasi MTs ALMALIKI CENDEKIA sudah berani diadu dengan MTs atau SMP lain yang sudah berdiri lama. Terbukti dari prestasi MTs ALMALIKI CENDEKIA berhasil lolos OPSI yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.

“(Santri MTs Al Maliki Cendekia) dikhittah menjadi ulul albab, ketika dia duduk, berbaring, bahkan laripun mengingat kebesaran Allah. Karena ini adalah generasi-generasi ulul albab, generasi menjadi seorang peneliti,” tambah Kamad MAN IC Pekalongan.

“Tidak salah orang tua yang menyekolahkan anaknya di MTs ALMALIKI CENDEKIA. Beliau (Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin) bagian IMTAQnya saya bagian IPTEKnya. Beliau berhati Makkahnya saya berotak Jermannya, kami berkolaborasi,” jelas Pak Rektor.

Kurikulum Pendidikan ALMALIKI CENDEKIA berada dalam naungan MAN IC Pekalongan, dengan penjamin mutu langsung dari MAN IC Pekalongan, Ustadz Nabih Siddiqi, Lc., M.Si. Terkait dengan mutu MTs ALMALIKI CENDEKIA, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin dalam berbagai kesempatan mengajak ustadz-ustadzah MTs ALMALIKI CENDEKIA melakukan studi wawasan terhadap beberapa sekolah favorit di berbagai kota.
                “Ada Semesta kita datangi, sekolah bagus di Purwokerto kita datangi. Belajar dari mereka untuk meningkatkan kualitas MTs ALMALIKI CENDEKIA,” tutur Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin.

MTs ALMALIKI CENDEKIA juga mengusung konsep boarding school, selain menjadi siswa akademisi juga menjadi santri di PP. ALMALIKI Pekalongan, yang lekat dengan pembelajaran kitab kuning.

“Tidak hanya dari segi sikap yang akan berubah tapi juga dari akademisnya,” ungkap Kamad MTs ALMALIKI CENDEKIA, Anas Yoga Nugroho, S.Si., M.Si.

Angkatan Kedua MTs ALMALIKI CENDEKIA ini dikukuhkan dengan nama Birrun Generation, yang beranggotakan 32 siswa/i. Setelah proses seleksi yang ketat, Birrun Generation ini juga melewati serangkaian psikotes guna menyaring potensi akademis dan bakat masing-masing siswa yang kemudian akan dibina dan dikembangkan sesuai dengan potensi masing-masing.

Hadir pula dalam penerimaan santri baru MTs ALMALIKI CENDEKIA, perwakilan Kapolres Pekalongan Kota, penjamin mutu MAN IC Pekalongan Andri Agustina, M.Si., orang tua santri dan tamu undangan.(*)

Takhtim Ngaji Pasaran Ramadhan PP. Al Maliki: Ajang Kreasi Santri Hingga Pembacaan Sanad Kitab

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – PP. Al Maliki Pekalongan melangsungkan Takhtim Ngaji Pasaran Ramadhan 1445H, bertepatan pada hari Ahad Malam Senin, 21 Ramadhan 1445H/ 31 Maret 2024. Acara bertempat di Joglo Kyai Ageng Pekalongan, PP. Al Maliki, Jl. Kyai Ageng Pekalongan No. 1 Kuripan Kertoharjo Kota Pekalongan.

 

Kajian pasaran Ramadhan di PP. Al Maliki dimulai sejak tanggal 1 Ramadhan yang pesertanya tidak hanya santri PP. Al Maliki dan Majelis Ta’lim Al Maliki, namun juga santri-santri dari luar, seperti PP. Aris Kendal, PP. Dalwa Pasuruan, PP. Lirboyo Kediri, dsb, serta masyarakat sekitar.

 

Acara dihadiri oleh Walikota Pekalongan, H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E., Kapolres Kota Pekalongan AKBP Doni Prakoso Widamanto, S.I.K, Wakapolres Kota Pekalongan, Kompol Pujiono, SH., M.M., Kemenag Kota Pekalongan, H. Kasiman Mahmud Desky, M.Ag., Kepala MAN IC H. Khoirul Anam, M. Pdi, Pengawas MTs se-Kota Pekalongan, Bpk. Camat Kuripan Kertoharjo, Lurah Kuripan Kertoharjo, serta jama;ah dan masyarakat sekitar. 

Takhtim Ngaji Pasaran Ramadhan juga dirangkai dengan sambutan dari beberapa tokoh. Kapolres Pekalongan AKBP Doni Prakoso Widamanto, beliau menyampaikan pentingnya berkumpul dalam satu Majelis dengan orang-orang sholeh.

 

 Dilanjutkan dengan H. Kasiman Mahmud Desky, M.Ag., Kepala Kemenag Kota Pekalongan menyampaikan, “Tidak banyak tempat yang diberi kemudahan seperi kita untuk menuntut ilmu. Kita patut bersyukur kepada Pak Kyai, kita yang tua-tua yang sebelumnya tidak terbiasa mengaji, bisa memaksimalkan ngaji pasaran.”

 

H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E. walikota Pekalongan menyampaikan , “Pondok Pesantren Al Maliki sangat luar biasa. Saya mengikuti mulai dari peletakan batu pertama, sekitar 3-4 tahun yang lalu. Sekarang sudah jadi seperti ini, memang suatu cita-cita besar.”

 

Saya ingat pesan dari Kakek saya, “Kalo kita memang niat untuk membangun fasilitas keagamaan maupun social suatu saat akan terkabul, tapi kapan waktunya kita tidak ketahui.”

 

“Karena itu kita kita perlu berproses. Berproses itu step by step, selangkah demi selangkah, membuat kita semakin kuat,” tambah beliau. 

Tidak seperti biasanya, jika pada takhtim ngaji pasaran Ramadhan sebelumnya mauidhoh hasanah selalu diisi santri, kali ini Disi oleh Wakapolres Kota Peklaongan Kompol Pujiono, S.H., M.M., dalam mauidhonya beliau menegaskan pentingnya sedekah, dan mengajak jama’ah bersholawat.

 

          Beliau berkata, “Jangan dekat-dekat orang alim kecuali bisa membawa perubahan, seperti halnya jika amal yang sebelumnya dilakukan karena riya’ menjadi ikhlas.”

 

Rektor MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, M.Pdi., “Kalo ingin Pondok Pesantren ini maju, bermutu dan mendunia itu tentunya ada resepnya. Sistem yang kita bangun adalah Kerjasama. Kita dukung program Pak Kyai, kita dukung program jama’ah. Yang kedua adalah membangun jejaring, yang ketiga adalah Kolaborasi. Keempat, inovasi. Yang di PP. lain tidak ada, kita adakan.

 

“Jika Teamwork, networking, kolaboasi dan inovasi dilakukan insya Allah, Kun!” tutur beliau.

 

          Pak Rektor, sapaan sehari-hari beliau, menurutkan, bahwa kurikulum MTs Almaliki Cendekia didesain sesuai dengan panduan dari MAN Insan Cendekia. Siswa-siswi MTs Almaliki Cendekia juga bergiliran mengunjungi MAN Insan Cendekia Pekalongan untuk belajar dengan fasilitas laboratorium yang lengkap.

 

“Saya berharap ada kurikulum ke-IC-an sejak awal, sehingga pada saat ujian nanti sudah terbiasa.

         

          Selain sambutan, Takhtim Majelis juga dirangkai dengan penyerahan SK. Pondok Pesantren dari Walikota Pekalongan kepada PEngasuh PP. Al Maliki Pekalongan. Dimeriahkan juga dengan Khataman Al-Qur’an, Pembacaan Sanad Kitab, dan Drama Kolaborasi Santri PP. Al Maliki dan Majelis Ta’lim Al Maliki.

 

Pemungkas acara, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin sebagai khodimul Ma’had dan Majelis Ta’lim Al Maliki menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada jajaran tokoh yang bersedia hadir dalam acara tersebut.

 

 Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin juga mengajak hadirin menyampaikan rasa syukurnya.

  

“Kita patut bersyukur, karena di khataman puasa ini kita mendapat berkah yang luar biasa,” dawuh beliau. 

           

Perlu diketahui, PP. Al Maliki lahir dari Rahim Majelis Ta’lim Al Maliki Pekalongan. Majelis yang sebelumnya diasuh Almaghfurlah KH. Amirin bin Kurdi, kini dilanjutkan oleh Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin. Pada kepemimpinan Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin Majelis Ta’lim berkembang, dan melahirkan PP. Al Maliki Pekalongan yang menaungi PP. Al Maliki Cendekia dan PP. Salaf Al Maliki.

           

MTs ALMALIKI CENDEKIA beroperasi dengan bimbingan MAN Insan Cendekia, dengan system boarding school. Mengusung konsep bilingual, bahasa arab dan bahasa inggris serta pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center).

 

MTs ALMALIKI CENDEKIA berkomitmen melahirkan generasi yang cerdas, mandiri dan berwawasan global. Ditunjang dengan program khusus dan ekstrakurikuler. Bimbingan olimpiade, bimbingan ke MAN IC dan pembelajaran kitab kuning. MTs ALMALIKI CENDEKIA ; Unggul, Berdzikir, Mengukir Prestasi dan Prasasti.

 

PP. Al Maliki juga menaungi PP. Salaf Al Maliki, yang letaknya di Jl. Pelita III Gg Kyai Amirin No. 53 Jenggot Pekalongan Selatan, Kota Peklaongan.

 

Pondok Pesantren yang berfokus pada pembelajaran kitab kuning, merawat tradisi keislaman tempo dulu yang ditransformasikan dengan perkembangan zaman. Memiliki program unggulan Madrasah Diniyah, pembinaan akhlakul karimah dan pelatihan keterampilan.

 

Madrasah Diniyah PP. Salaf Al Maliki mengembangkan kurikulum yang diarahkan pada tercapainya penguasaan kitab kuning. PP. Salaf Al Maliki unggul dalam ilmu agama, merawat tradisi keislaman, berpikiran luas, dan terbuka dalam beramal.

 

Selain agenda Takhtim Majelis Posonan yang berlangsung setiap tahun, PP. Al Maliki juga secara rutin mengadakan Dauroh Kitab (bedah kitab) yang diisi oleh ‘ulama-‘ulama internasional yang sanadnya tersambung dengan Sayyidi Rosulillah saw. (*)

 

Takhtim MT & PP. AL-Maliki Pekalongan, Syekh Ammar Bangkitkan Semangat Mencari Ilmu Santri

Kota Pekalongan – ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Takhtim Majelis Ta’lim dan PP. Al-Maliki Pekalongan berlangsung dengan khidmat (Sabtu, 24/02/24). Acara dihadiri oleh ‘ulama keturunan Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani ke-23 dari Palestina, Syekh Dr. Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jaelani Al-Hasani. Sosok imam besar Masjidil Aqsho yang banyak mengarang kitab.

Acara yang berlangsung di Joglo Kyai Ageng Pekalongan Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan, merupakan takhtim simbolis pengajian rutin Majelis Ta’lim dan PP. Al-Maliki Pekalongan yang diasuh oleh Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin. Dimulai dengan rangkaian kolaborasi kreasi penampilan Santri PP. Al-Maliki Cendekia Pekalongan dan PP. Salaf Al-Maliki Pekalongan. Dan apresiasi santri berprestasi baik dalam kancah Pondok Pesanten maupun Kompetisi Olimpiade tingkat Provinsi.

Dalam acara tersebut, Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin menyampaikan rasa syukur dan bahagianya, karena dalam kesempatan tersebut hadir beberapa ‘ulama, tokoh masyarakat, juga wali santri dan jama’ah yang memadati Joglo Kyai Ageng Pekalongan.

Hadir dalam momen istimewa tersebut, Habib Ridho bin Yahya Jakarta, Walikota Pekalongan, Ketua DPRD Kota Pekalongan, Kapolres Kota Pekalongan, Dandim Kota Pekalongan, Kasdim 0710 Pekalongan. Kepala Kemenag, Kabag Logistik Polres Pekalongan Kita, Perwakilan dari Kapolres Peklaongan Kajen, Komandan Kompi Brimob Pekalongan, Perwakilan Kepala Kejaksaan Negeri Kota Pekalongan, Camat Pekalongan Selatan, Damramil Pekalongan Selatan, Perwakilan Hotel Dafam, dan beberapa tamu lainnya.

Habib Ridho bin Yahya memimpin pembacaan Tahlil sebagai peringatan Haul Masyayikh Al-Maliki Pekalongan. Dilanjut dengan untaian nasehat dari Syekh Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jaelani, yang didampingi Ustadz Anis sebagai penerjemah. 

Kebahagiaan Guru Menjadi Sebab Santri Diangkat Derajatnya oleh Allah

Syekh Ammar Azmi menuturkan, “Kebahagiaan seorang guru itu ketika melihat kesuksesan muridnya. Ini sebuah kenikmatan di dunia. Sebagaimana Imam Al-Maliki bahagia melihat kesuksesan murindya:  Imam Syafii, Imam Jakfar Shoddiq bahagia melihat kesuksesan Imam Abu Hanifah, dan ini merupakan kebahagiaan hakiki di dunia, dan akan terjadi kelak di akherat kebahagiaan yang abadi.”

Beliau menyebutkan Hadits Syarah AlBukhori,

“baginda Nabi Muhammad saw bersabda, seorang ulama derajatnya persis setelah para nabi, ini bukti pengagungan Allah. Allah SWT menepati janjinya, akan akan mengangkat derajat ahli ilmi, Allah akan mengangkat orang yang berilmu sebagaimana Allah swt mengangkat derajat dari wasilah ulama, guru-guru tersebut.”

Kenikmatan atau kebahagiaan seorang guru itu tatkala melihat muridnya mendapat derajat tinggi di akherat. Dari guru inilah yang menjadi sebab para santri mendapat kemuliaan di akherat.

Beliau mengharapkan para santri Al-Maliki juga seyogyanya bisa mendapat kebahagiaan dari Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin, yang menjadi sebab santri diangkat derajatnya baik di dunia maupun di akherat. 

Pentingnya Menggapai Hakikat Ilmu

Syekh Ammar Azmi Ar-Rafati menekankan pentingnya santri menggapai hakikat ilmu. Karena mempelajari ilmu tanpa mengetahui maksud dari konsp keilmuan tersebut akan menjadi hambar.

“Seperti Iblis jika secara keilmuan mereka rajin, mereka ahli ilmu, tetapi mereka tidak menadapatkan tujuan ilmu tersebut. Tujuan ilmu yang diberikan Allah kepada hambaNya,” terang Syekh Ammar.  

“Hakikat ilmu itu apa? Orang belajar bukan sekedar membaca, bukan sekedar menghafal apa yang ingin dihafal. Namun lebih dari itu, ada 4 hal yang harus dipenuhi seorang santri untuk memperoleh hakikat ilmu itu sendiri.

Hakikat ilmu ada 4 :

Pertama, kesiapan seorang santri di dalam mempelajari dan mengaplikasikan ilmu tersebut. Kedua, kebersihan pola pikir, atau kecerdasan akal seorang  santri. Ketiga, akidah atau keyakinan yang baik atau yang sesuai dengan tuntunan Rosulullah saw. Karena ilmu ini akan melahirkan budipekerti yg baik, dan bagi pencari ilmu akan memiliki i’tikad yg baik. Keempat, metode yang disiapkan dimana metode tersebut yang sesuai dengan ajaran Rosulullah saw. Karena ilmu seharusnya melahirkan budi pekerti yang baik, akhlak yang baik, dan akan menjadikan sebuah keyakinan yang baik. 

Oleh karena itu hakekat ilmu itu adalah sebuah konsep memasukan ilmu ke dalam hati seseorang yang akan melahirkan sebuah akhlak dan I’tikad yang baik. Dan ini yang Baginda Nabi Muhammad saw ajarkan kepada para sahabat. Jadi ketika Baginda Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada para sahabat Baginda Nabi tidak hanya mengajarkan ilmu saja, tetapi juga memasukan ilmu tersebut kepada para sanubari sahabat, sehingga ini merupakan hakikat ilmu yang dimaksudkan Allah SWT.

Sebagaimana Baginda Nabi Muhammad mengajarkan iman kepada para sahabat, maka beliau mengajarkan sahabat tentang konsep Iman.

“Iman itu apa? Iman itu bentuk akhlak, bentuk adab ktia kepada Allah SWT. Kepada Makhluk-makhluk ciptaan Allah swt, adab kita kepada para malaikat. Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi memasukan ke dalam sanubari sahabat pemahaman tentang ilmu,” lanjut Syekh Ammar.  

Dan beliau menjeaskan ketika hakikat ilmu itu didapatkan para santri maka santri akan mendapat keutamaan dari ilmu tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran tentang keutamaan ilmu. 

Ummat Nabi Muhammad adalah Ummat yang Berilmu

Syekh Ammar menegaskan,

“Jika kta ingin menunjukan sebagai umatnya Nabi Muhammad, maka kita harus menunjukannya dengan ilmu. Kalau ummat Nbai Muhammad pintar maka akan mengalami kemajuan-kemajuan besar. Baghdad menjadi Kota Ilmu, begitu juga dengan Masjidil Aqsho menjadi universitas tua.”

Beliau mengisahkan tentang seorang ulama al-azhar bertemu dengan ilmuan Jepang, kemudian ulama Al-Azhar itu bertanya kepada ilmuan Jepang,

“Apa yang membuat Jepang itu maju, bahkan untuk pintu toilet saja bisa otomatis terbuka.”

Kemudian orang Jepang menjelaskan, Islam sebenarnya lebih dahulu maju di banding kami. Ilmuan Jepang takjub dengan penelitian-penelitian ilmuan Islam di masa lalu. Saat membaca sejarah Nabi Muhammad orang Jepang melihat potensi besar dari umat Islam bisa melejit lebih cepat dengan ajaran Islam. 1 orang Islam memiliki sebuah kepintaran atau kecerdasan sebanding dengan 5 orang.

Kenapa sekarang umat Islam mengalami kemerosotan dalam ilmu? Saat ditanya seperti itu ulama Al-Azhar menjawab, karena orang Islam saat ini lebih suka menmpatkan seseorang yang bukan ahli ilmu sebagai orang yang diikuti fatwanya seperti artis.

Syekh Ammar juga menuturkan bahwa tempat majelis seperti ini, adalah tempat kita mendapat pahala sebaik-baiknya.

“Sebagaimana sebaik-baik shodaqo menurut Imam Syafi’I adalah untuk orang yang mencari ilmu. Karena berinfak untuk orang yang mencari ilmu, dengan fasilitas yang kita berikan dia akan menjadi orang yang alim, dan dia akan bisa memberikan kemanfaatan dari ilmu yang dia miliki.”

Terakhir beliau mendoakan hadirin semoga Allah SWT selalu menajga tempat ini, menjaga para mencari ilmu di sini, dan menjaga Indonesia supaya maju dengan ilmuan-ilmuannya.  

Semoga dengan kehadiran Syekh Ammar dan ‘ulama lain di PP. Al-Maliki Pekalongan mampu membangkitkan semangat para santri mendalami ilmu agama dengan niat  yang lurus dan adab yang sesuai ajaran Baginda Nabi Muhammad saw, aamiin allahumma aamiin…. (*)

Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) Ponpes Al-Maliki Pekalongan Menerima Kunjungan TIM Verifikasi Lapangan PPD Kota Pekalongan

ALMALIKIPEKALONGAN.NET – Kota Pekalongan – Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan mendapat kunjungan dari TIM Verifikasi Lapangan Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2024 Tahap II di Kota Pekalongan, pada Selasa (06/02/24). Kunjungan tersebut merupakan rangkaian penilaian dalam bidang Kebaruan INOVASI KAKAP EMAS (Kembalikan Kejayaan Perairan Pekalongan bagi Peningkatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat).

Tim Verifikasi Lapangan PPD tiba di Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan didampingi oleh Bpk Nur Prihantomo (Sekda Kota Pekalongan), Bpk Yuswanto (Bappeda Provinsi), Bpk Sayekti (Ka Bappeda Kota Pekalongan), Ibu Sevina (Bappeda Kota Pekalongan), Bpk Imron Rosyidi (Bappeda Kota Pekalongan) dan Bpk Sugiyo (Ka DKP Kota Pekalongan). Kunjungan tersebut disambut oleh Kepala Yayasan Al-Maliki Indonesia Pekalongan, Bpk Mohamad Alwi dan Koordinator Budidaya Lele Pondok Pesantren Al-Maliki, M. Ridias Maulana.

Kolam Bundar Ikan Lele Terpadu (KOBILTU) merupakan 18 inovasi Perikanan yang ada di Kota Pekalongan dan termasuk dari lima tempat yang dikunjungi Tim Verifikasi Lapangan PPD di Kota Pekalongan. Untuk Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2024 Tahap II diikuti oleh Kota Pekalongan, Kota Magelang, dan Kabupaten Klaten.

Budidaya Ikan Lele yang ada di Pondok Pesantren Al-Maliki menggunakan metoe bioflok, dengan kolam berbentuk bundar yang dikembangkan di halaman Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan.

Sebagai lembaga pendidikan religius Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan tidak hanya membina santri dengan ilmu agama saja. Lebih dari itu, pembekalan untuk kehidupan di tengah masyarakat juga dipersiapkan, diantaranya dengan budidaya lele.

Budidaya Lele ini merupakan salah satu cara menumbuhkan mental wirausaha atau entrepreneurship dari santri. Budidaya Lele yang dikembangkan di lahan Pondok Pesantren Al-Maliki sudah berlangsung sejak tahun 2019. Biasanya dalam setahun Lele bisa dipanen tiga kali secara bertahap, sebagaimana keterangan yang disampaikan Saudara M. Ridias Maulana selaku koordinator Budidaya Lele.

“Setahun bisa tiga kali panen, setiap pagi ada penambahan air kolam setinggi sepuluh centimeter. Kemudian setiap bulan dilakukan penyortiran untuk memisahkan bibit yang besar,” jelasnya.

Penambahan benih lele Pondok Pesantren Al-Maliki juga tak lepas dari andil Dinas Perikanan Kota Pekalongan. Pada 29 Agustus 2022, benih lele bertambah sebanyak 32.000 ekor dengan tambahan delapan kolam diameter 4 meter.

“Semoga dengan adanya kolam lele dapat menunjang keberlangsungan kegiatan pondok dan jama’ah,” ungkap Pak Pras mewakili TIM Verifikasi Lapangan PPD. (*)

Habib Abdullah Al-Masyhur (Madinah) Membedah Kaidah Fiqih Syafi’iyah di Pondok Pesantren Al-Maliki Pekalongan

Kota Pekalongan, almalikipekalongan.net – Habib Abdullah bin Husein bin Abdullah bin Ali bin Abdurrahman bin Muhammad Masyhur dari Madinah atau yang akrab disapa dengan Habib Abdullah Al-Masyhur adalah sosok ulama sekaligus cucu pengarang kitab Bughyatul Mustarsyidin, Habib Abdurrahman Al-Masyhur. Pada Kamis Malam Jum’at (07/12/2023) beliau hadir sebagai narasumber dalam Daurah Kitab Bughyatul Mustarsyidin dan Manhajus Sawi yang diadakan di Joglo Kyai Ageng Pekalongan, Pondok Pesantren Al Maliki Pekalongan, Jl. Kyai Ageng Kota Pekalongan No. 1 Kuripan Kertoharjo Pekalongan Selatan.

       Dalam acara yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut Habib Abdullah Al-Masyhur didampingi Habib Ahmad bin Smith (Jakarta), santri sekaligus sebagai penerjemah  beliau. Acara dibuka dengan pembacaan qosidah burdah dilanjutkan dengan sambutan hangat Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin, selaku pengasuh Pondok Pesantren & Majelis Ta’lim Al Maliki. Romo KH. Muhammad Saifuddin Amirin memperkenalkan sosok Habib Abdullah Al-Masyhur kepada jama’ah yang hadir.

“Habib Abdullah Al-Masyhur adalah pengajar di Rubath Habib Zein bin Ibrohim bin Smith Habib Abdullah Al-Masyhur juga banyak mengarang kitab, terutama tentang fiqih zaman. Dimana banyak orang menyepelekan fiqih. Padahal Imam Syafi’i menjadi ulama besar karena fiqihnya,” tutur KH. Muhammad Saifuddin Amirin.

“Fiqih itu akan menjawab tantangan umat, itu dari fiqih,” lanjut KH. Muhammad Saifuddin Amirin.  

Pada kesempatan itu, Ustadz Muhammad Faza Nur Aziz, dan Ustadz Muhammad Khoirul Jadid, Lc, MA bergantian membacakan kitab Bughyatul Mustarsyidin dan Manhajus Sawi. Kitab Bughyatul Mustarsyidin dan Manhajus Sawi sendiri adalah kitab yang masyhur di kalangan pondok pesantren.

Selain membedah dua kitab tersebut, Habib Abdullah Al-Masyhur juga memberikan kesempatan kepada jama’ah bertanya mengenai permasalahan fiqih mereka. 

Intisari Daurah Kitab Bughyatul Mustarsyidin
  • Orang tua yang mengajarkan anaknya ilmu agama, tentnag ibadah tentnag sholat, dsb, maka jika anak tersebut mengamalkan apa yang diajarkan orang tuanya maka orang tua akan mendapat pahala yang terus mengalir di dalam kuburnya.

  • Begitu juga dengan orang yang menyedekahkan benda untuk kemaslahatan umat, maka pahala akan terus mengalir selama barang tersebut itu digunakan.

  • Apabila orang mengajarkan ilmu dan ilmu tersebut disebarluaskan kepada masyarakat maka orang pertama yang mengajarkan ilmu tersebut akan mendapatkan pahala yang tersu menerus, dan emgnalir di dalam kuburnya saat dia sudah meninggal.

  • Di zaman Rosulullah saw terjadi, pada saat Rosulullah saw duduk Bersama para sahabat maka lewat seorang jenazah, maka sahabat memuji jenazah tadi, dahulu orang ini orang yang baik, orang yang rajin sholat, rajin sedekah, dsb, maka ketika mendengar itu Rosulullah saw berrkata wajabat, telah wajib baginya. Tidak berselang lama lewat jenazah lain dan sahabat mengatakan hal-hal yang tidak baik, ini jenazah suka menganggu orang, berbuat dosa, dsb. Maka mendengar perkataan sahabat tadi Rosulullah berkata wajabat.

  • Apa yang kau maksudkan dengan wajabat ya Rosulullah? Rosulullah saw menjawab, jenazah pertama kalian sifati dengan kebaikan, maka dia wajib masuk surga. Kemudian jenazah kedua kalian sifati dengan kemaksiatan, maka wajib baginya masuk neraka. Karena kalian semua adalah parra saksi-saksi Allah di muka bumi.

  • Ahli waris dari orang yang meninggal dunia, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menyelesaikan hutang-hutangnya, kedua menyelesaikan wasiat-wasiatnya, kemudian setelah itu dibagikan harta warisnya kepada ahli warisnya. Jangan sampai hartanya diselewengkan.

  • Istri yang ditinggal wafat suaminya dan tidak mempunyai anak, maka dia berhak mendapat ¼ dari harta warisan, dan jika dia mempunyai anak maka berhak mendapat 1/8  daripada warisan. Tidak boleh keluarga suami atau saudara suami menahan hak istri untuk diberikan warisannya.

  • Apabila yang berhak mendapat harta itu adalah anak kecil, dan anak yatim, maka tidak boleh harta itu diselewengkan oleh pemegang harta anak yatim. Karena dikatakan dalam Al-Qur’an , “orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang dholim, bahwasanya yang dimakan di dalam perutnya adalah api. Mereka akan masuk neraka.” Hakikatnya orang yang makan harta anak yatim adalah memakan api, dan ia akan masuk neraka.

  • Ada seseorang dahulu kala makan harta anak yatim dan berlayar menggunakan perahu. Pada saat berlayar ada orang ingin memasak, akan tetapi tidak ada ap untuk memasak. Lalu mereka bertanya kepada ulama yang ada di sana. Maka ‘ulama tersebut bertanya, apakah dari ratusan penumpang ini ada orang yang mengasuh anak yatim? Setelah dicari ternyata ada satu orang. Maka ulama tadi menyuruh kayu bakar yang disediakan, ketika dia menutup terbakarlah kayu tersebut.

  • Sebaik-baik rumah di muka bumi ini adalah rumah yang di sana terdapat anak yatim yang diperlakukan degan baik. Karena Rosulullah saw dahulu adalah anak yatim. Seburuk-buruk rumah di muka bumi ini adalah rumah yang di sana terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk.

  • Seorang wanita yang mengalami keguguran akan memperoleh pahala sangat besar. Dikarenakan wanita tersebut menanggung jerih payah kehamilan selama berbulan-bulan dan bayinya meninggal karena keguguran. Dikatakan dalam satu riwayat, “Aku melahirkan satu bayi yang keguguran itu lebih baik daripada aku melahirkan 70 yang orang yang berjihad di jalan Allah swt.”

  • Hukum anak adopsi, anak adopsi tidak dinasabkan kepada ayah yang mengadopsi, karena nasab dia tetap kepada ayah kandungnya. Anak adopsi tidak menajdi ahli waris setelah orang tua yang angkatnya meninggal dunia. Setelah dewasa, anak adopsi terkena hukum haram berjumpa dengan yang berlainan jenis dari mahram yang mengadopsi.<

  • Anak adopsi yang tidak dikenalkan siapa orang tua aslinya akan mengakitabkan masalah fatal. Dia akan mewarisi harta yang tidak hak baginya karena dia bukan ahli waris. Kedua dia akan menghalangi ahli waris mendapatkan warisan, padahal dia bukan ahli waris. Ketiga dia akan bertemu dengan mahram si orang yang mengadopsi padahal ini bukan mahramnya tapi dia kira itu mahram artinya dia akan berjumpa dan itu hukumnya haram. Maka hukumnya wajib memberitahu kepada anak, bahwa dia anak adopsi.

  • Hukumnya melanggar syariat, perjanjian bersyarat antara orang tua kandung dengan pengadopsi, supaya orang tua kandung tidak mengakui anaknya sebagai anak kandungnya lagi.

  • Seseorang yang ingin memberikan hartanya kepada anak adopsi adalah dilakukan pada masa hidupnya itu boleh-boleh saja, ini merupakan cara terbaik.

  • Anak yang terjadi sebelum akad nikah adalah anak zina. Atau anak yang haram dan anak haram ini tidak mendapatkan hak seperti anak halal, artinya tidak mewarisi harta, tidak menjadikan hukum-hukum seperti anak kandung.

  • Anak-anak muslim korban peperangan sebaiknya diadopsi oleh orang muslim juga, supaya tidak diadopsi orang non muslim dan menjadi murtad.

  • Nadzir masjid yang membuat wasiat, maka ahli warisnya yang ditunjuk akan melanjutkan tugas sebagai nadzir masjid. Namun jika tidak membuat surat wasiat maka akan berakhir padanya.

  • Pembagian harta waris yang dilakukan sesuai kesepakatan, diperbolehkan dengan catatan pembagaian tersbut dibagi secara syari’ah lebih dahulu, kemudian sisanya dilakukan secara hibah, misalnya ahli waris yang mendapat banyak memberi kepada ahli waris lain.

  • Dalam kaidah fiqih al-itsar fi qurbi makruh, mendahulukan orang lain dalam ibadah itu hukumnya makruh, seperti mendahulukan orang lain mendapatkan shaf pretama. Atau memberikan air yang terbatas ke orang lain untuk wudhu, sedangkan dirinya tayamum.

  • Tidak termasuk kaidah fiqih al-itsar fi qurbi makruh, transfer pahala. Menurut i’tikad ahlusunnah, mengirimkan pahala pembacaan surat yasin kepada orang tua. Pahala kita sama dengan pahala orang tua, karena itu semua ya bertumpu pada kemurahan Allah swt. Orang yang menunjukkan akan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala sama seperti orang yang mengerjakan kebaikan tadi tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakan.

  • Disebutkan dalam hadits, muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya. Barang siapa yang yang menjadi muadzin di tiap waktu di lima waktu selama 7 tahun dengan sukarela, maka dia akan mendapatkan naungan dari Allah swt di hari yang mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah swt. Maka untuk marbot yang mendapatkan upah, dalam akadnya pembayaran upahnya jangan sebagai muadzin, akan tetapi untuk pekerjaan lain seperi bersih-bersih dan nyalain lampu, supaya mendapat keutamaan dunia akherat.

  • Orang yang menyedekahkan suatu benda (seperti kipas angin) masih akan tetap mendapatkan pahala dari sedekahnya selama benda tersebut dalam perawatan meskipun jarang digunakan.

  • Benda yang disedekahkan statusnya berbeda dengan benda yang diwaqafkan. Jika benda yang disedekahkan masih boleh dipergunakan untuk kemaslahatan di tempat lain, namun benda yang diwakafkan tidak demikian. Benda yang diwakafkan tidak bisa digunakan kecuali di tempat yang diwakafkan dan untuk apa dia diwakafkan.

  • Wakaf tanah untuk masjid sebaiknya dilakukan setelah masjid itu selesai dibangun. Karena jika belum dibangun, tanah yang diwakafkan tersebut dihukumi seperrti hukum masjid. Artinya, tidak boleh diperlakukan secara sembarangan. Misalnya tidak boleh untuk kencing sembarangan, mendengarkan musik, dsb.

Intisari Daurah Kitab Manjahus Sawi

  • Dalam kitab manhajus sawi majelis ilmu adalah majelis yang mana engkau belajar cara ibadah, cara sholat, cara puasa, cara nikah, dsb. Majelis ilmu dinaungi oleh para malaikat-malaikat Allah swt. Dikatakan dalam hadis kalau kita menghadirinya lebih afdhol daripada kita sholat sunah 1000 rakaat, daripada melakukan ibadah-ibadah sunah. Orang yang menghadiri majelis ilmu kan diampuni dosa-dosanya, dan dikabulkan hajat-hajatnya.

  • Wanita kalau dia keluar dari rumah suaminya tanpa seizin suami maka dia akan dilaknat oleh malaikat sampai dia kembali lagi ke rumah itu. Seorang istri tidak diperbolehkan keluar dari rumah suaminya kecuali dengan seizin suaminya, Ketika istri mempunyai satu permasalahan ilmu yang tidak bisa dijawab oleh suaminya maka ketika itu dia boleh keluar rumah untuk mencari tahu masalah ilmu itu, tanpa seizin suami sekalipun.

  • Kita seharusnya sangat antusias untuk menghadiri majelis-majelis ilmu karena kata Imam Syafi’I, “tidak ada pahala yang lebih baik daripada ibadah-ibadah yang fardhu seperti sholat daripada menghadiri majelis-majelis ilmu.” Bahkan menghadiri majelis ilmu ini lebih afdhol daripada ibadah-ibadah sunah.

  • Orang tua yang menggendong anak pada saat sholat, dan anaknya tersebut memakai pampers maka sholatnya tidak sah. Kalau di pampersnya itu kita yakin ada najis maka sholat kita menjadi batal.

  • Orang yang tertinggal roka’at sholat jum’at maka harus menyempurnakannya menjadi 4 roka’at meskipun niat awalnya dengan niat sholat jum’at.

  • Wanita yang haid di waktu dhuhur dan belum melaksanakan sholat dhuhur, maka pada saat bersih dari haid wajib mengqodho’ sholat dhuhur beserta sholat asarnya. Karena sholat dhuhur bisa dijama’ dengan sholat asar, begitu juga jika berrhenti di waktu isya’ maka wajib mengqodho’ sholat isya dengan sholat maghrib.

  • Orang yang mencuci pakaian jangan sampai mencampurkan baju yang najis dengan baju yang suci. Sebaiknya menghilangkan najis pada pakaian dahulu sebelum dicampurkan dengan baju lain. Karena mencampurkan baju yang najis dengan baju yang ada dalam rendaman maka dengan seketika itu airnya jadi ikut najis dan pakaian di dalamnya juga.

  • Namun berbeda dengan najis di sautu tempat. Jika ada anak buang air kecil di kamar misalnya, maka yang dihukumi najis adalah tempat dimana dia buang air kecil, tidak seluruh kamar menjadi najis.

  • Orang yang sudah lanjut usia kalau mau sholat duduk, tidak boleh langsung sholat dalam keadaan duduk. Karena dia mampu berjalan maupun berdiri. Maka sholatnya dengan berdiri terlebih dahulu. Takbiratul berdiri, kemudian jika dia mengalami kesulitan di tengah-tengah sholatnya maka dia melanjutkan dengan duduk.

  • Seorang musafir yang bepergian menggunakan alat transportasi agar tidak meninggalkan sholat. Harus sholat semampunya untuk menghormati waktu. Kalau sudah sampai di tempat tujuan mengulang lagi sholat yang dikerjakan di atas kendaraan tadi.

  • Orang yang pernah meninggalkan sholat di masa lalu kemudian dia ingin bertobat kepada Allah, wajib baginya untuk mengqodho’ sholat yang ditinggalkan di masa lalu. Yaitu dengan memperkirakan berapa lama waktu dia meninggalkan sholatnya itu.

  • Orang yan tertinggal sholat, imamnya sudah dalam posisi rukuk maka tidak boleh dia takbirotul ihrom sambil turun ruku’. Takbir dulu dalam keadaan berdiri kemudian baru rukuk menyusul imam. Juga kalau orang yang menyusul imam ketika ruku’ maka harus diperhatikan begitu dia rukuk, imamnya sudah tidak rukuk, maka dia harus menambah raka’at setelah sholatnya.

  • Orang yang lupa tasyahud awal maka dia tidak boleh kembali ke posisi tasyahud awal kalau sudah berdiri. Kalau belum sampai berdiri boleh kembali tasyahud awal.

  • Selain bedah kitab, beliau juga memberrikan ijazah sanad kitab Bughyatul Mustarsyidin dan Manhajus Sawi. Di tengah acara beliau juga mengijazahkan do’a untuk diamalkan.

                                                اللهُمَّ احْيِنِيْ عَلَى الْاِسْلَامِ وَالسُّنَّةْ وَتَوَفَّنِيْ عَلَى الْاِيْمَانِ وَالتَّوْبَهْ

    “Bacalah doa ini di setiap sujud terakhir daripada sholat kita karena barang siapa yang mengamalkan daripada doa ini, maka dia akan mendapatkan husnul khatimah dari Allah swt,” tutur Habib Abdullah Al-Masyhur melalui penerjemahnya.

    Turut hadir dalam daurah kitab tersebut cucu pengarang kitab Sulam Taufiq, Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Thohir dari Seiwun, Hadramaut Yaman, dan KH. Abdul Fattah Yastran (ketua Yayasan Masjid Jami’ Pekalongan), jama’ah Majelis Ta’lim Al-Maliki Pekalongan, Ustadz-Ustadzah beserta santri santriwati Ponpes Al-Maliki Pekalongan, dan masyarakat sekitar.

    Kegiatan Daurah Kitab tersebut merupakan salah satu rangkaian acara kunjungan beliau  di Yayasan Al-Maliki Indonesia Pekalongan selama tiga hari. Selain di Majelis Ta’lim Al-Maliki, beliau juga mengisi bedah kitab khusus di Ponpes Salaf Al-Maliki dan juga MTs Al-Maliki Cendekia. Semoga dengan hadirnya orang-orang alim di Ponpes Al-Maliki Pekalongan membawa keberkahan dan manfa’at yang tiada habisnya, aamiin allahumma aamiin…. (*)

     

    *untuk sesi Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Thohir (cucu pengarang kitab Sulam Taufiq akan diulas dalam artikel selanjutnya.

error: Content is protected !!