Podho Tapi Bedho: Ketika Bayi Nabi Muhammad ﷺ Tumbuh Luar Biasa

oleh : Ibrahim Zamzami

Setelah dilahirkan, seorang bayi akan tumbuh dan berkembang melalui berbagai tahap. Dari yang awalnya hanya bisa berbaring, perlahan-lahan ia belajar duduk, berdiri, hingga akhirnya mampu berjalan sendiri. Namun, setiap anak memiliki keunikan sehingga tahapan perkembangan ini bisa berbeda-beda.

Dalam kitab Maulid Al-Barzanji karya Sayyid Ja’far bin Sayyid Hasan bin Sayyid Abdul Karim bin Sayyid Al-Madani bin Sayyid Rosul Al-Barzanji, yang berjudul lengkap Al-‘Iqdul Jauhar fi Maulidin Nabiyyil Azhar, disebutkan:

وكان صلى الله عليه وسلم يشب في اليوم شباب الصبي في الشهر بعناية ربانية

“Rasulullah tumbuh setiap hari seperti pertumbuhan seorang anak dalam sebulan, atas kehendak dan perhatian Allah.”

Kitab syarahnya, Al-Kaukabul Anwar ‘Ala ‘Iqdil Jauhar karya Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma’il bin Sayyid Zainal Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain bin Ja’far Al-Barzanji – yang di Jawa dikenal dengan sebutan Wareng – menjelaskan tahapan perkembangan Nabi Muhammad sejak bayi:

Usia 2 bulan: beliau sudah bisa berguling ke berbagai arah.

ولما صار ابن شهرين كان يتزحلف مع الصبيان إلى كل جانب     

Usia 3 bulan: sudah mampu berdiri dengan kedua kaki.

فقام على قدميه في ثلاث

Usia 4 bulan: bisa berjalan sambil berpegangan pada dinding.

Umumnya bayi  baru mulai belajar berjalan sambil berpegangan pada benda-benda di sekitarnya pada usia 9 bulan. Namun Nabi Muhammad sudah mampu berjalan sambil berpegangan pada dinding pada usia 4 bulan.

وفي أربعة كان يمسك الجدار ويمشي

Usia 5 bulan: mulai berjalan sendiri.

ومشى في خمس     

Usia 6 bulan: berjalan dengan cepat.

Ketika bayi pada umumnya baru bisa melangkahkan kaki di usia 10-12 bulan, Rosulullah saw sudah bisa berjalan dengan cepat di usia 6 bulan.

ولما تم له ستة أشهر كان يسرع في المشي

Usia 7 bulan: sudah dapat berlari. Pada umumnya bayi bisa mulai berlari di usia 1,5 tahun, Rasulullah SAW sudah dapat berlari pada usia 7 bulan.

وفي سبعة أشهر كان يسعى ويعدو إلى كل جانب     

Usia 8 bulan: mulai berbicara dengan fasih.

Ketika bayi pada umumnya baru bisa mengucap satu kata di usia 9-12 bulan dan baru menguasai sekitar 50 kosakata pada umur 2 tahun, Rasulullah SAW sudah mampu berbicara dengan fasih pada usia 8 bulan.

ولما مضى عليه ثمانية أشهر شارع يتكلم بكلام فصيح     

Usia 9 bulan: berbicara semakin lancar.

Di usia 3 tahun bayi pada umumnya baru bisa berbicara dengan lancar, Rasulullah SAW sudah lancar berbicara di usia 9 bulan.

Usia 10 bulan: mampu bermain melempar anak panah bersama anak-anak yang lebih tua.

Anak-anak sudah dapat belajar memanah pada usia 6 tahun, namun Rasulullah SAW sudah mampu bermain melempar anak panah pada usia 10 bulan.

وفي عشرة أشهر كان يرمي بالسهام مع الصبيان     

Jika dibandingkan dengan perkembangan bayi pada umumnya—yang biasanya baru bisa berguling di usia 5–6 bulan, serta berdiri dan berjalan pada usia 9–12 bulan—maka jelas perkembangan Nabi Muhammad berlangsung jauh lebih cepat.

Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah memang manusia, podo tapi bedho, beliau tetaplah manusia tetapi tidak sama dengan manusia pada umumnya. Seperti diungkapkan dalam bait syair

محمد بشر وليس كالبشر * بل هو ياقوتة والناس كالحجر

“Muhammad adalah manusia, tetapi tidak seperti manusia lainnya; beliau ibarat permata, sedangkan manusia lain seperti batu.” (*)

Kisah Pemabuk yang Diangkat Derajatnya Berkat Sholawat

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul. Syekh Nawawi mengutip cerita ini dari sebagian kaum sufi.

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga dirinya tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. 

Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun tidak menerimanya dan masih tetap dengan kebiasaan mabuknya. Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi. Ia berada dalam derajat yang luar biasa mulia, memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga

Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi pun bertanya: 

 بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

Artinya: Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini? 

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya: 

 حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ

Artinya: Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barang siapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga mengeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.

وهي مقبولة من كل أحد في كل حالة، ومن المخلص فيه،  وكذا من المرائي بها على أصح الأقوال

Artinya, “Shalawat itu diterima dari setiap orang dan dalam kondisi apapun. Diterima dari orang yang ikhlas, begitu juga orang yang riya atau pamer amal menurut pendapat yang paling benar. (Yusuf an-Nabhani, Sa’âdatud Dârain, halaman 34).

Setidaknya ada dua penjelasan tentang hal tersebut menurut kutipan Syekh Ibnu Amir dalam hasyiyah atas kitab Ithâful Murîd Syarh Jauharatid Tauhîd. Pertama, maksud bacaan shalawat pasti diterima adalah, pembaca akan menemukan pahala shalawat di akhirat bila meninggal dalam kondisi husnul khatimah. Hal ini berbeda dengan amal lain yang masih bisa diterima dan tidak.

 

Kedua, maksud bacaan shalawat pasti diterima adalah, andaikan tidak meninggal dalam kondisi husnul khatimah—naûdzubillâhi min dzâlik—maka ia tetap akan mendapatkan manfaat syafaat dari shalawat yang dibacanya. Setidaknya shalawat pernah dibacanya akan meringankan siksanya di neraka, sebagaimama Abu Lahab mendapat keringanan siksa tiap hari Senin karena gembira atas kelahiran Rasulullah saw, atau Abu Thalib yang mendapat keringanan siksa karena cintanya kepada Nabi saw dan doa yang dipanjatkan Nabi saw. (*)

Kisah Sayyid Alawi, Hafidh Qur’an Setelah Menelan Ludah Gurunya

Sayyid Alawi, salah satu dari pilar pengajar masjidil haram pernah bercerita tentang dirinya,

“Aku menghafal Al Qur’an di tangan guruku As-Syekh Hasan As-Sunari.”

Syekh Hasan adalah Ahlul Qur’an, beliau tidak pernah meninggalkan waktunya sedikitpun, kecuali selalu membaca Al Qur’an. Bahkan karena kelekatan beliau dengan Al Qur’an di dadanya, beliau tidak pernah mengosongkan diri dari Al Qur’an, kecuali saat di kamar mandi. Konon kalau di kamar mandi, beliau selalu menggigit lidahnya sampai berlubang terkena gigitan. Hal ini dilakukan Syekh Hasan supaya tidak sampai membaca Al Qur’an di kamar mandi.

Beliau terkenal tegas dalam mendidik murid-muridnya, termasuk dengan 𝐒𝐚𝐲𝐲𝐢𝐝 𝐀𝐥𝐚𝐰𝐢 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 𝐀𝐥 𝐌𝐚𝐥𝐢𝐤𝐢.

Pernah pada suatu hari sang syekh berkata:

قم يا علوي!! وافتح فمك

ففتح السيد علوي فمه، وبصق الشيخ فم السيد

وقال : والله منذ ذا الحين، ما فى قلبي في قلبك

 

“Buka mulutmu, nak!” Setelah itu, beliau memasukan ludah beliau ke mulut Sayyid Alawi dan berkata,

“Mulai sekarang apa yang ada di dalam hatiku, ada di dalam hatimu,” tutur Syekh Hasan kepada Sayyid Alawi.

Sejak peristiwa itu, Sayyid Alawi diberi kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Beliau bisa langsung menghafal Al-Qur’an. Masih sangat belia, dalam usia 9 tahun beliau telah menyempurnakan hafalan Al-Qur’annya, kemudian beliau dijadikan salah satu dari imam Masjidil Haram.

Sayyid Alawi merupakan karim ibnil karim, ayah beliau Sayyid Abbas adalah Mufti dan Qodhi Makkah, serta khatib di Masjidil Haram.  Putra-putra beliau Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dan Sayyid Abbas bin Alawi Al-Maliki merupakan ‘ulama besar yang masyhur dan memiliki ribuan santri dari berbagai negeri.

Hikmahnya:

~ Seorang murid sudah seharusnya memiliki kesadaran untuk selalu berbaik sangka kepada sang guru, segala upaya yang dilakukan guru tidak mungkin lepas dari kemashlahatan murid-muridnya.

~ Kesabaran dan kebersihan hati seorang murid akan membawanya kepada keberhasilan.

NIAT BAIK

Dikisahkan, pada suatu ketika ada segerombolan pencuri pergi untuk merampok rombongan pedagang. Ketika malam mulai datang, mereka berhenti di pepondokan yang ada di hutan, dengan maksud untuk menginap di sana. Mereka mengetuk rumah dan mengatakan pada penghuninya bahwa mereka termasuk pasukan perang.

 

Sang penghuni pun membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk dengan penuh keramahan. Melayani mereka dengan sepenuh hati dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan lantaran mereka, serta mencari berkah dari mereka.

 

Pemilik rumah itu memiliki anak yang lumpuh dan tidak bisa berdiri. Ia mengambilkan sisa makanan dan minuman para perampok tadi. Ia berkata kepada istrinya, “Usaplah anak kita dengan ini! Mudah-mudahan ia bisa sembuh dengan berkah pasukan perang itu.” Sang istri pun melakukan perintah suaminya.

 

Ketika matahari mulai terbit, perampok pergi ke luar desa. Mereka merampok beberapa harta, kemudian mereka kembali ke pondok saat matahari terbenam. Mereka kaget melihat anak pemilik pondok bisa berdiri dengan normal.

 

“Bukankah kemarin kami melihat anak ini masih lumpuh?” tanya para perampok itu.

 

“Memang benar, karena setelah aku mengambil sisa makanan dan minuman kalian, dan mengusapkan pada anakku, ternyata Allah menyembuhkannya dengan lantaran berkah dari kalian.” Jawab sang pemilik rumah.

 

Setelah itu, para perampok menangis tersedu-sedu. Mereka berkata, “Kami bukanlah pasukan perang, melainkan kami adalah perampok. Dan tujuan kami adalah merampok. Sesungguhnya Allahlah yang telah menyembuhkan anakmu sebab baiknya niatmu. Dan kami akan bertobat kepada Allah.”

 

Kemudian merekapun bertobat dan menjadi pasukan perang yang berjuang dijalan Allah sampai ajal menjemput. (diambil dari kitab al fawaid fi hikayatil ajibah).

 

Hikmahnya, niat baik akan menghasilkan baik walaupun salah dalam berbuat baik, karena pandangan niat lebih besar dari pada amal. Sesuai dengan hadist : نية المؤمن خير من عمله

 

Niat baik lebih baik dari amal. Sebagaimana yang dituturkan KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), “lebih baik orang jelek yang berniat baik dari pada orang baik berniat buruk.”

 

Rasulullah SAW bersabda:

إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

Artinya: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan,” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Rasulullah SAW bersabda:

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

Artinya: “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati,” (HR. Bukhari).

 

Berprasangka baik akan mengalahkan segalanya. Lebih baik salah dalam berprasangka baik dari pada salah tidak berprasangka baik.

 

Karena Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِيْ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika berprasangka buruk, maka ia mendapatkan keburukan.” (HR. Ahmad).

 

*kisah diambil dari kitab al fawaid fi hikayatil ajibah

error: Content is protected !!